Sungai Lukulo Kebumen Longsor, Satu Bangunan Hilang
LONGSOR: Petugas memasang garis pengaman di sekitar area longsor di Dukuh Legok Desa/Kecamatan Pejagoan, Rabu (4/3).--
KEBUMEN - Satu bangunan warung di Dukuh Legok Desa/Kecamatan Pejagoan, terbawa longsor pada Selasa (3/3) malam. Pantauan di lokasi, Rabu (4/3), garis pengaman telah dipasang di sekitar area kejadian guna mengantisipasi warga mendekat. Bangunan yang berada di tepi Sungai Lukulo tersebut tampak hancur setelah tanah di bawahnya longsor.
Pemilik bangunan, Riswati (50), mengatakan sebelum kejadian wilayah Kebumen diguyur hujan lebat sejak sekitar pukul 18.00 WIB. Tiga jam kemudian, bangunan yang dulunya digunakan sebagai warung itu dilaporkan longsor.
“Tahunya ya ada tetangga yang bilang mba itu warungnya sudah miring itu Mbak, gimana,” ujarnya.
Riswati mengaku pertama kali mengetahui bangunannya terbawa longsor dari informasi tetangga. Ia menjelaskan, awalnya bagian belakang bangunan lebih dulu longsor, kemudian disusul bagian depan hingga akhirnya roboh.
BACA JUGA:Disperkimhub Kebumen Petakan Titik Macet Arus Mudik Lebaran, Perlintasan KA dan Pasar Jadi Sorotan
BACA JUGA:Pemkab Kebumen Gelontorkan 33 M Kebut Perbaikan Jalan, DPUPR Garap 17 Ruas Jalan
"Awalnya bagian belakang dulu yang longsor, nggak lama terus bagian depan juga ikut roboh," ungkapnya.
Menurutnya, bangunan tersebut sudah tidak lagi digunakan untuk berjualan sejak beberapa tahun lalu. Keputusan itu diambil setelah sebelumnya terjadi longsor pada rumah yang berada di belakang warung tersebut.
"Udah nggak ditempatin karena dulu sempet longsor, jadi takut lah," jelas Risewati.
Beruntung, Riswati sempat menyelamatkan sejumlah barang sebelum bagian depan bangunan ikut longsor, seperti tabung gas melon dan air mineral. Namun, beberapa barang lainnya seperti sepeda ontel, tabung gas 12 kilogram, perabot dapur, perlengkapan sekolah, serta alat tukang ikut terbawa longsor.
BACA JUGA:Perkuat Tim, Persak Kebumen Tambah Tujuh Pemain
Saat ini, Riswati bersama suami dan seorang anaknya tinggal di hunian sementara yang berdiri di atas tanah milik warga setempat setelah mendapat izin dari pemerintah desa.
Kasi Trantib Kecamatan Pejagoan, Nur Cahyani, mengatakan kerugian akibat peristiwa tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp 25 juta. Ia menyebut pihak kecamatan sebenarnya telah mengimbau agar bangunan di tepi sungai tersebut tidak lagi digunakan sejak 2019, menyusul kejadian longsor serupa pada waktu itu.
“Kemungkinan kita mengusulkan untuk relokasi rumah ya untuk bantuan di DPUPR,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
