Mengenal Nispi Maulidah, Siswi SMPN 5 Purwokerto yang Peduli Lingkungan
Prihatin Perilaku Warga, Kampanye Lewat Poster
Nispi Maulidah, siswi dari SMP Negeri 5 Purwokerto ini berbeda dengan anak remaja kebanyakan. Meski masih duduk dibangku kelas delapan, sudah memiliki kepedulian dengan lingkungan.
REZA ABINERI, Purwokerto.
Suasana SMPN 5 Purwokerto seperti layaknya sekolah umumnya. Ramai dengan hiruk pikuk sekolah dan anak-anak. Tidak lama menunggu, Nispi Maulidah yang memang sudah janjian bertemu Radarmas menghampiri. Sampil tersenyum ramah, tidak lumpa mengulurkan tangan untuk sekadar bersalaman.
Sepintas Nispi terlihat kalem. Tidak ada yang istimewa. Penampilanya juga sama dengan kemabnyakan siswi lainya. Namun, prestasinya tidak 'sekalem' anaknya. Nispi berhasil mennyabet prestasi mentereng saat mewakili Kabupaten Banyumas dalam lomba melukis untuk tingkat nasional. Nispi mengangkat tema kepedulian lingkungan akan bahaya sampah.
"Banyak orang yang menanyakan, termasuk orangtua kenapa memilih tema yang tidak lazim,"katanya.
Dia pun bercerita bagaimana kisah akan prestasinya dimulai. Pada awalnya, Nispi ini beberapa kali melihat perilaku masyarakat di Jalan Gunung Tugel yang suka membuang sampah atau BAB sembarangan. Bahkan, dia melihat itu beberapa kali. Wajar karena kebetulan setiap berangkat ke sekolah, dia melewati jalan tersebut.
"Melihatnya ketika berangkat sekolah sejak di kelas tujuh. Karena berboncengan dengan bapak, jadi mudah untuk melihat kanan dan kiri jalan,"ujarnya.
Dari pengalamannya itu, dia pun terbetik untuk membuat sesuatu yang mampu merubah perilaku jelek masyarakat tersebut. Niat baiknya pun terjawab. Kebetulan saat masuk pelajaran seni, dia dan teman-temannya diminta untuk membuat lukisan. Temanya bebas.
"Saat itu memang Pak Guru meminta teman-teman untuk membuat lukisan sederhana yang menggambar tentang kegundahannya," imbuhnya.
Hasil lukisan Nispi ternyata menarik perhatian sang guru, Cipto Pratomo yang juga pelukis dan seniman Banyumas. Bakat alami dari Nispi sepertinya terlihat. Selanjutnya, berkat latihan dan arahan dari gurunya itu, pada Maret 2016 lalu, Nispi pun diminta untuk mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba poster sanitasi tingkat kabupaten. Hasilnya, Nispi menduduki peringkat satu dan berhak mewakili Banyumas.
"Iya sebenarnya ada lima pemenang yang mewakili. Namun memang karya saya yang terbaik tingkat kabupaten," katanya.
Beberapa bulan berselang, dia pun mengikuti lomba poster sanitasi tingkat propinsi yang digelar di Solo. Dalam lomba tersebut, diambilah lima pemenang termasuk Nispi. Sayangnya, Nispi tidak meraih juara satu dalam lomba itu. "Lima besar ini yang akan mewakili pemilihan duta sanitasi tingkat nasional. Namun saya hanya meraih juara tiga, sehingga hanya akan mengikuti workshop untuk tingkat nasional," terang Nispi.
Meski hanya mengikuti workshop Lomba Pemilihan Duta Sanitasi Nasional 2016, dia mengaku gembira. Sebab dia mengakui, dalam workshop tersebut diajarkan bagaimana mengolah sampah dengan teknik yang mudah dan murah. "Materi workshop yang disampaikan seperti membuat filter dari bahan yang mudah didapatkan. Jadi memunculkan ide untuk diterapkan dirumah," sambungnya. (*/acd)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

