Banner v.2

Warga Keluhkan Larangan Eceran Pertalite

Warga Keluhkan Larangan Eceran Pertalite

Warga keluhkan Pertalite BANJARNEGARA - Warga mengeluhkan dilarangnya Pertalite eceran. BBM yang boleh diecerkan jenis Pertamax yang harganya lebih mahal. Larangan ini membuat biaya yang harus dikeluarkan masyarakat lebih besar Seorang warga Dusun Getas Pringamba Kecamatan Pandanarum Imam Riyanto berharap Pertalite boleh diecerkan lagi. "Pertalite adalah bahan bakar yang bisa dijangkau, maka untuk pihak terkait agar mengeluarkan Pertalite lagi. Karena itu adalah bahan bakar non subsidi yang harusnya dijual bebas," kata dia usai menyampaikan keluhan ke Komisi II DPRD Banjarnegara, Jumat (3/1). Dia mengatakan larangan mengecerkan Pertalite ini diberlakukan sejak 1 Januari 2020. Dengan larangan ini, masyarakat kesulitan membeli BBM. Terutama yang jauh dari SPBU. "Masyarakat yang bepergian untuk menghemat biaya Pertalite. Kalau adanya Pertamax, otomatis bagi petani atau pedagang memberatkan," kata dia. Dikatakan, saat ini terjadi kekosongan stok bagi para pengecer Pertalite. "Pertalite saat ini kosong. Pertamax belum, wacana nanti diecerkan Rp12 ribu per liter. Kalau sebelumnya Pertalite eceran Rp 9 ribu sampai Rp 10 ribu per liter," jelasnya. Ketua Komisi II DPRD Banjarnegara Mochammad Rochmanuddin mengatakan sebelum menemui warga, paginya kebijakan ini telah dibahas bersama dengan Indakop, Perekonomian dan Hiswana Migas. "Intinya mereka tidak bisa memutuskan karena itu himbauan dari Pertamina. Disepakati hari Senin akan bertemu langsung dengan Pertamina," ungkapnya. Dia memahami keluhan warga yang mengadu ke komisi yang dipimpinnya. "Mereka sangat kecewa. Karena masalah harga, otomatis Pertamax kan Rp 10 ribu lebih. Intinya mereka keberatan," lanjutnya. (drn)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: