Angka Stunting Masih Tinggi, Bupati Banjarnegara Minta Pendekatan Nyata di Lapangan
Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana saat rapat advokasi kebijakan dan komitmen bersama lintas sectoral.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana, mengkritik pendekatan penanganan stunting yang selama ini terlalu banyak berpusat pada perencanaan tanpa aksi lapangan. Ia menekankan pentingnya intervensi nyata yang langsung menyentuh masyarakat, ketimbang sekadar rapat dan seremonial.
“Angka stunting kita masih tinggi. Meskipun tren menurun, penurunan itu belum signifikan. Mungkin karena terlalu banyak kegiatan di ruang rapat, tapi minim aksi nyata di lapangan,” ujar Amalia, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, penanganan stunting seharusnya diwujudkan melalui aksi konkret seperti pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh yang sehat, serta peningkatan akses terhadap air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan ibu dan anak.
“Saya lebih memilih intervensi untuk 10 anak yang betul-betul tuntas, daripada 100 anak yang ditangani setengah-setengah,” tegasnya.
BACA JUGA:Penuhi Asupan Gizi, PWP Cilacap Cegah Stunting Sejak Dini
Amalia juga menyoroti pentingnya peran semua pihak, termasuk camat, kepala desa, dan ASN dalam mencegah pernikahan dini serta perceraian yang kerap menjadi pemicu masalah gizi kronis di keluarga.
“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Camat harus mengoordinir desa, dan ASN bisa mulai dari lingkungan terdekat mereka,” lanjutnya.
Bupati juga menyinggung pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam upaya ini. Ia menilai, keberhasilan strategi konvergensi stunting sangat bergantung pada SDM yang paham lapangan dan memiliki pendekatan efektif.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Baperlitbang) Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, mengatakan rapat tersebut ditujukan untuk memperkuat sinergi antar stakeholder dalam menjalankan kebijakan nasional penurunan stunting melalui pendekatan terintegrasi.
BACA JUGA:Purbalingga Targetkan Angka Stunting Turun Jadi 19 Persen pada 2026
“Tujuannya agar semua pihak memahami arah kebijakan pusat dan membangun komitmen bersama di tingkat kabupaten maupun kecamatan,” ujarnya.
Yusuf juga mendorong lahirnya inovasi lokal dalam upaya penurunan stunting agar solusi yang diterapkan sesuai konteks sosial dan budaya di desa.
Data terbaru dari aplikasi EPPGBM menunjukkan bahwa angka stunting Banjarnegara pada 2024 berada di angka 17,08%, turun tipis dari tahun sebelumnya yang mencapai 17,5%. Namun, data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) justru mencatat kenaikan, dari 19,9% pada 2023 menjadi 20,6% pada 2024.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya perbedaan signifikan antar sumber data, yang bisa menjadi tantangan tersendiri bagi perencanaan program.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

