Menko PMK: Ada Panic Buying Oksigen, Bakal Gunakan Oksigen Konsentrator

Rabu 14-07-2021,13:18 WIB

LANGKA: Kelangkaan oksigen untuk pasien Covid-19. JAKARTA – Masalah kelangkaan oksigen bukan hanya terjadi di RS, tetapi juga pada mereka yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Hal itu tentu turut menjadi perhatian pemerintah untuk dapat segera mengatasi persoalan tersebut. https://radarbanyumas.co.id/oksigen-cukup-untuk-50-ribu-kasus-per-hari/ Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengakui bahwa masyarakat menjadi panik akan kondisi ini. Hal ini pun membuat mereka membeli oksigen untuk disimpan ketika sekiranya ada keluarga yang positif Covid-19. “Saat ini telah terjadi sedikit panic buying di masyarakat. Sehingga mereka membeli oksigen dan menyimpannya di rumah untuk berjaga-jaga,” ungkap dia pada Selasa (13/7). Di sisi lain, ada pula masyarakat yang melaksanakan gerakan sedekah oksigen. Inisiasi masyarakat ini pun diapresiasi yang merupakan bukti gotong-royong nyata. “Untuk mereka yang kebetulan oksigennya belum terpakai, kalau ada tetangganya yang membutuhkan, mengulurkan tangan untuk bisa menyumbangkan atau meminjamkan oksigen yang ada di rumahnya masing-masing,” imbuhnya. Muhadjir menilai cara itu efektif, mengingat pemerintah saat ini masih tengah mengupayakan pemenuhan kebutuhan oksigen terutama untuk RS-RS yang merawat pasien Covid-19 dan tempat-tempat isolasi kolektif. Sementara itu, pasien Covid-19 dengan gejala berat, akan menggunakan oksigen konsentrator atau oxygen concentrator. Hal itu dikatakan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. “Kita pakai alat yang namanya oksigen konsentrator. Alat ini bisa dibeli, mungkin harganya USD 500-800. Dia mengkonversi, colokin langsung ke listrik, dia mengkonversi udara langsung menjadi oksigen medis dengan saturasi di atas 93 persen,” ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (13/7). Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut menuturkan, India menggunakan oksigen konsentrator di saat angka penularan di negara tersebut tinggi. Sehingga Indonesia bisa mencontoh dari India. “Ini adalah cara yang dipakai juga di India kemarin dan kita menyumbang juga ke India beberapa oksigen konsentrator ini,” katanya. Budi mengungkapkan, setidaknya untuk saat ini Indonesia membutuhkan sebanyak 70 ribu tabung dan oksigen konsentrator. Sehingga diharapkan ini bisa secepatnya digunakan. “Kita sudah mengindentifikasi kebutuhan tabung dan oksigen konsentrator itu sekitar 60-70 ribu. Tapi ke depannya kita akan mengarahkan ke oksigen konsentrator,” ungkapnya. Diharapkan, pada saat penggunakan oksigen konsentrator tersebut listrik di rumah sakit (RS) tidak padam. Sebab alat tersebut cara kerjanya dibantu menggunakan listrik. “Selama listriknya ada, oksigennya bisa mengalir. Mudah-mudahan listriknya jangan mati saja yang di rumah sakit-rumah sakit,” ungkapnya. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sebanyak 30 unit oksigen konsentrator pesanan pemerintah Indonesia dari Singapura akan tiba dalam waktu dekat. Sebanyak 30 unit oksigen tersebut merupakan bagian dari 10.000 oksigen konsentrator yang dibeli pemerintah Indonesia dari Singapura. Selain oksigen kosentrator, Luhut memaparkan bahwa pemerintah juga akan membeli 7 unit oksigen generator dan 36.000 ton oksigen untuk 30 hari ke depan. (jpc)

Tags :
Kategori :

Terkait