KERING : Meski kondisi Waduk Sempor mengalami kekeringan, namun tetap mampu menarik para wisatawan. Keringnya waduk menjadi pemandangan tersendiri bagi wisatawan.IMAM/EKSPRES
KEBUMEN- Musim kemarau ini, kondisi Waduk Sempor kini kering dan kehilangan sekitar 70 persen debit air. Dilihat secara kasat mata, penurunan air mencapai sekitar 30 meter dari kondisi normal. Warga setempat memanfaatkan lereng waduk untuk berkebun sayuran dan umbi-umbian.
Dalam kondisi normal, Bukit Perkuwuhan yang berada di tepi waduk biasanya tidak tampak. Namun saat kemarau seperti saat ini, bukit yang awalnya merupakan makam itu tampak gagah menjulang. Keringnya waduk juga dipengarui oleh keringnya dua sumber mata air yang mengisi waduk tersebut yakni sungai Sampang dan Kedungringin.
Waduk Sempor dibangun pada tahun 1978. Ini merujuk pada data Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Laju sedimentasi di Waduk Sempor mencapai sekitar 160.000 meter kubik setiap tahun.
Daya tampung Waduk Sempor semakin menurun seiring laju sedimentasi yang cukup tinggi, padahal kebutuhan air bagi masyarakat semakin meningkat. Selain untuk pengairan dan wisata, Waduk Sempor juga digunakan sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pengendali banjir, penyedia air minum dan perikanan.
Di awal pembuatanya Waduk Sempor mampu menampung air 52 juta meter kubik. Namun pada pengukuran terakhir yakni tahun 1998 volume maksimal air waduk tinggal 38,363 juta meter kubik. volume sedimen antara 1994-1998 mencapai 1,488 juta meter kubik.
Keringnya waduk, juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Beberapa wisatawan sengaja datang untuk melihat kondisi waduk yang hanya tinggal menampung 30 persen air saja.
Selain untuk perkebunan, kondisi waduk kering juga memicu munculnya taman krokot. Yakni sejenis tumbuhan liar yang termpar saat waduk sedang surut. “Bagian waduk yang kering kerap menjadi tempat bagi para wisatawan mengadakan kegiatan,” kata anggota Pokdarwis Mukti Marandesa Desa/Kecamatan Sempor Taufik, Jumat (3/9).
Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu juga banyak pelajar yang melaksanakan kemah di sekitar area waduk yang mengering. Sebab area yang luas kering dan rata. Lokasi tersebut menjadi favorit mengingat hanya dapat digunakan saat musim kemarau saja. “Meski secara fungsi waduk untuk pengairan berkurang, namun wisata tetap dapat berjalan,” ucapnya. (mam)