CILACAP, RADARBANYUMAS.CO.ID - Desa Karanganyar, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap mulai mengembangkan penanaman bawang merah dengan metode TSS, sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa.
Kepala Desa Karanganyar, Tasono mengatakan, pihaknya memilih komoditas sayuran sebagai fokus pengembangan, karena dinilai memiliki pasar yang jelas dan mampu menopang kebutuhan program makan bergizi.
"Kami mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan. Kami memilih tanaman sayuran sebagai sentra produksi pertanian BUMDes, sekaligus sebagai back up untuk kebutuhan MBG," ujarnya.
Ia menjelaskan, selain bawang merah, produksi sayuran seperti pokcoy juga sudah berjalan dan dipasarkan setiap hari ke delapan pasar di wilayah Cilacap.
"Pokcoy setiap hari tembus delapan pasar di Cilacap. Untuk bawang merah juga sudah berjalan, karena ada banyak intervensi dan dukungan dari berbagai instansi. Harapannya produktivitas bawang merah dan sayuran lain bisa membantu menghadapi inflasi," kata Tasono.
Menurutnya, bawang merah memiliki prospek bagus terutama pada musim tanam ketiga, sehingga desa optimistis komoditas ini bisa menjadi unggulan.
Sementara itu Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman menilai. Karanganyar memiliki potensi pertanian yang sangat besar dan perlu dikelola dengan baik.
"Karanganyar ini potensi pertaniannya luar biasa. BUMDes harus mampu memanfaatkan potensi lahan dengan manajemen dan teknologi, khususnya di bidang pertanian," ujarnya.
BACA JUGA:Dishanpan Cilacap Dorong Petani Untuk Kurangi Pestisida pada Tanaman Pangan
Ia menyebut, jika potensi tersebut dioptimalkan, Karanganyar bisa menjadi sentra produksi pertanian, khususnya bawang merah.
Selain itu, program MBG juga bisa menyerap hasil pertanian desa sehingga perputaran ekonomi terjadi di tingkat lokal.
"Kita dorong Karanganyar menjadi sentra pertanian bawang merah. Kalau dikelola serius, ini bisa menjadi kekuatan ekonomi desa," tegasnya.
Dalam pengembangannya, penanaman bawang merah di Karanganyar juga mulai menggunakan metode baru, yakni TSS (True Shallot Seed).
Melalui metode ini, benih ditanam dari biji sehingga dinilai lebih efisien dan dapat menekan biaya produksi dibandingkan penggunaan umbi.