Dua Dekade Menjaga Rasa Lewat Alat Tradisional Dawet Ayu
DI sudut Dusun Wanatangi, Kelurahan Argasoka, suara ketukan palu dan gesekan kayu menjadi irama sehari-hari. Dari rumah sederhana itulah Mukodas menekuni pekerjaan yang jarang disorot, tetapi memegang peran penting dalam menjaga eksistensi Dawet Ayu Banjarnegara.
PUJUD ANDRIASTANTO/BANJARNEGARA
Selama lebih dari 20 tahun, Mukodas mengelola Rumah Peralatan Dawet Ayu Banjarnegara bersama istrinya. Dia bukan penjual dawet, melainkan pengrajin perlengkapan yang menopang para pedagang mulai dari rombong dawet, gerobak ukir, centhong batok kelapa, hingga aksesori khas yang sarat makna.
“Kalau orang melihat dawetnya enak, jarang yang berpikir alatnya dibuat di mana,” kata Mukodas
Dalam proses produksi, Mukodas dibantu dua orang tukang. Setiap orang rata-rata mampu menyelesaikan lebih dari satu pasang rombong per hari. Seluruh pengerjaan masih mengandalkan tangan, ketelitian, dan pengalaman panjang.
BACA JUGA:Prihatin Budiono (35), Pengrajin Sangkar Burung Ajibarang, Pasarkan Produk Unggulan Desa Ke Sumatera
Keunikan peralatan buatan Mukodas tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga filosofi yang melekat. Ornamen wayang Semar dan Gareng hampir selalu hadir di rombong dawet. Bagi Mukodas, itu bukan sekadar hiasan.
“Semar dan Gareng itu singkatan musim mareng, kemarau. Harapannya dagangan laris saat cuaca panas,” ujarnya.
Bendera hijau yang terpasang di rombong juga punya arti tersendiri. Warna hijau melambangkan daun pandan bahan penting dalam dawet sekaligus doa agar penjual dan pembeli mendapat keberkahan.
Sentuhan tradisional lain terlihat dari penggunaan centhong batok kelapa dan kendi tanah liat. Selain menjaga aroma dan suhu gula merah, peralatan ini dianggap mampu mempertahankan rasa dawet tetap segar.
BACA JUGA:Melihat Jejak Komunitas Dharma Bhakti Patanjala di Purbalingga
“Alat tradisional ini melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keharmonisan manusia dengan alam,” tutur Mukodas.
Dari sisi ketahanan, peralatan buatannya dikenal awet. Dengan perawatan normal, rombong dan perlengkapan dawet bisa digunakan tiga hingga lima tahun.
Soal harga, Mukodas memilih tetap realistis. Sepasang rombong dijual sekitar Rp600 ribu, sementara paket lengkap dengan gerobak dibanderol Rp2,2 juta.
Permintaan datang dari berbagai daerah. Awalnya hanya dari Banjarnegara dan sekitarnya, kini produknya dikirim ke luar Jawa, bahkan hingga Papua.
BACA JUGA:Beras Jenggawur Tak Pernah Sepi Peminat, Panen Belum Datang tapi Pesanan Sudah Mengular