Identitas Penulis
Nama: Arina Zahra Faradisa
Institusi: Mahasiswa semester 1 Program Studi Administrasi Publik Universitas Diponegoro
RADARBANYUMAS.CO.ID - Pendidikan adalah jalan utama untuk keluar dari kemiskinan. Dari pendidikan yang berkualitas akan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mandiri, berdaya saing, dan mampu memanfaatkan peluang yang ada di sekitarnya.
Melalui pendidikan yang merata dan bermutu, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidupnya, mengurangi ketimpangan sosial, serta memperkuat fondasi pembangunan bangsa secara berkelanjutan. Namun, di berbagai pelosok negeri, terutama di desa-desa terpencil, jalan itu tampak semakin sempit
Banyak sekolah dasar dan menengah di daerah yang kekurangan guru, membuat proses belajar mengajar tidak berjalan optimal. Kondisi ini cerminan nyata bahwa kesenjangan masih hidup di tengah cita-cita pemerataan pendidikan nasional.
Kesenjangan antara pendidikan di kota dan desa semakin terlihat jelas. Di kota, fasilitas lengkap dan guru melimpah, sementara di desa, fasilitas kurang memadai, bahkan bangku-bangku sekolah sering kosong tanpa pengajar.
Data Kemendikbudristek (2024) menunjukkan bahwa Indonesia kekurangan 1,3 juta guru dikarenakan banyaknya guru yang pensisun dan tidak diikuti dengan perekrutan tenaga pendidik baru dalam jumlah yang sebanding.
Kondisi ini membuat banyak sekolah, terutama di daerah terpencil dan pedesaan mengalami kekosongan tenaga
pengajar. Akibatnya, satu guru terkadang harus merangkap mengajar beberapa mata pelajaran bahkan beberapa kelas sekaligus, sehingga kualitas pendidikan pun menjadi korban dan beban kerja guru meningkat.
Selain itu, ketimpangan jumlah guru antara wilayah perkotaan dan pedesaan semakin memperlebar jurang kualitas pendidikan di Indonesia.
Sekolah-sekolah di kota umumnya mempunyai tenaga pendidik yang lengkap dan berkualifikasi tinggi, sementara sekolah di desa harus bertahan dengan keterbatasan. Hal ini menyababkan anak-anak di desa sulit bersaing
dalam dunia akademik maupun dunia kerja.
Mereka belajar tanpa bimbingan yang memadai, danpada akhirnya kehilangan kepercayaan diri serta motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Masalah ini juga berdampak pada aspek sosial dan psikologis. Anak-anak di desa tumbuh dalam keterbatasan, merasa bahwa nasib mereka telah ditentukan sejak lahir, merasa bahwa kesempatan hanya milik mereka yang tinggal di kota.
Padahal, mereka memiliki potensi yang sama besar untuk maju, hanya saja tidak mendapatkan dukungan yang setara. Kondisi ini berisiko menimbulkan putus sekolah dan memperpanjang rantai kemiskinan antargenerasi.
Kekurangan guru bukan semata karena minimnya tenaga pengajar, tetapi karena distribusinya yang tidak merata. Banyak guru tidak bersedia ditempatkan di daerah terpencil karena minimnya tunjangan, kurangnya sarana transportasi, dan fasilitas dasar seperti tempat tinggal.
Sistem rekrutmen dan penempatan guru juga masih belum sepenuhnya berpihak pada pemerataan tenaga pendidik di seluruh wilayah. Sementara itu, arah kebijakan pendidikan cenderung fokus pada pembangunan fisik sekolah, sehingga kualitas dan pemerataan sumber daya manusia belum menjadi prioritas utama.
Sudah saatnya pemerintah perlu memperkuat kebijakan afirmatif yang berpihak pada guru di daerah terpencil. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah meningkatkan jumlah dan pemerataan kuota penerimaan guru agar distribusi tenaga pendidik lebih seimbang antara kota dan desa.