PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Aktivitas di Pasar Arjobinangun, Bojong atau Pasar Bojong jauh berbeda dibanding awal berdiri. Pasar yang dibangun pada 2013 tersebut awalnya memiliki 74 pedagang, namun kini hanya tersisa 17 pedagang los dan 4 pedagang kios.
Kepala Pasar Bojong, Sardi mengatakan, sebagian besar pedagang memilih berjualan di area depan pasar sejak Agustus 2024 lalu. Hal itu dilakukan atas permintaan pedagang, karena pembeli mengira tidak ada aktivitas di dalam pasar.
"Los di dalam sekarang tidak dihuni. Kios yang buka hanya 4," ungkapnya.
Menurutnya, situasi ini membuat suasana pasar semakin sepi. Pasar sebenarnya beroperasi mulai pukul 07.00 hingga sore, dengan puncak keramaian pada pukul 08.00. Namun, pembeli lebih banyak beralih ke pasar lain yang lebih dekat dan ramai, seperti Pasar Bukateja, Pasar Penican, Pasar Bancar, hingga Pasar Desa Toyareka.
BACA JUGA:Revitalisasi Pasar Kutasari Belum Jalan, Terkendala Lahan
"Dulu katanya ramai, tapi setelah dibangun justru sepi. Kebanyakan pedagang pindah ke Pasar Desa Toyareka," tambahnya.
Selain faktor lokasi pasar yang tidak dikelilingi pemukiman, keberadaan pedagang keliling dengan dagangan lebih lengkap serta pergeseran pola belanja ke pedagang online juga ikut memengaruhi sepinya pasar.
Dari total 14 kios yang tersedia, hanya 4 yang disewa pedagang. Saat ini, yang masih bertahan di antaranya pedagang kelontong, laundry, jasa potong rambut, dan toko plastik. Biaya sewa kios per bulan hanya Rp52 ribu.
Sardi berharap denyut ekonomi Pasar Bojong bisa kembali hidup. Pasar tersebut ditargetkan menyumbang retribusi daerah Rp16 juta per tahun, yang bersumber dari pedagang maupun parkir.
BACA JUGA:Revitalisasi Pasar Hewan Sulit Terealisasi Tahun Ini, Bakal Diusulkan Tahun 2026
Sementara itu, Dinah, salah satu pedagang yang sudah berjualan selama enam tahun, mengaku kondisi lebih baik setelah dipindah ke depan pasar.
"Sejak pindah ke depan ada peningkatan pembeli. Saya mulai berjualan dari jam 7 pagi sampai asar," ujarnya. (alw)