PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Pagelaran budaya tahunan Banyumas Lengger Bicara kembali digelar dengan semarak, Minggu (23/6/2025) malam. Ribuan penonton memenuhi Stadion Satria Purwokerto. Untuk menyaksikan malam puncak yang mengusung tema Satria Swarna.
Setelah mencetak rekor MURI tahun lalu lewat 10.000 penari, kali ini sebanyak 400 penari dari berbagai sanggar dan sekolah di Banyumas membuka acara dengan tari kolosal memukau. Tarian pembuka itu mengusung semangat pahlawan lokal dengan balutan gerak khas Lengger.
Usai tarian, panggung diambil alih oleh drama musikal "Srintil". Drama musikan ini diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kehadiran pertunjukan ini menjadi ruang penceritaan sejarah lewat gaya panggung modern. Namun tetap berakar pada nilai budaya Banyumas.
Sosok maestro lengger, Rianto, menjadi penampilan yang paling ditunggu. Tarian Rianto memukau ribuan pasang mata di stadion. Penutup acara adalah musisi Fanny Soegi yang sukses membungkus malam penuh budaya dengan atmosfer hangat dan syahdu.
BACA JUGA:Hibah Dana Indonesiana Untuk Dokumentasi Sang Maestro Lengger Lanang Dariah
Ketua Panitia Lengger Bicara 2025, Dewi Anggyaning Tyas, menyampaikan acara ini bukan hanya soal seni pertunjukan semata. Pihaknya turut memberikan penghargaan kepada tiga tokoh budaya Banyumas atas dedikasi menjaga dan mengembangkan budaya lokal.
Ketiganya adalah Ahmad Tohari (budayawan dan penulis), Narsih (penari lengger wanita), serta R Soetedja (musisi pencipta lagu “Ditepinya Sungai Serayu”). Lagu tersebut dikenal masyarakat karena selalu diputar saat kereta memasuki Stasiun Purwokerto.
“Tema Satria Swarna kami pilih untuk menghormati sosok seperti Ahmad Tohari dan Rianto. Mereka pahlawan budaya kita,” ujar Dewi.
Ia menambahkan, Lengger Bicara bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga strategi regenerasi budaya, agar seni tradisional tetap hidup di generasi muda.
BACA JUGA:Lengger Banyumas Ngibing Hingga Negeri Paman Sam
“Kami ingin budaya lengger tidak hilang ditelan zaman. Karena itu, acara ini dikemas agar lebih dekat dan disukai oleh generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Andy F Noya, Pembina Yayasan Banyumas Lengger Bicara, menyoroti aspek ekonomi dari penyelenggaraan acara ini. Ia berharap event ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat lokal.
“Acara ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tapi juga bisa menambah penghasilan warga sekitar. Kami juga sedang mengupayakan agar Lengger Bicara masuk kalender resmi event Kabupaten Banyumas,” jelas Andy.
Rangkaian Lengger Bicara telah berlangsung sejak tiga hari sebelumnya dengan beragam kegiatan budaya, termasuk Art Camp. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal lebih dalam tentang kesenian lengger sekaligus membangun jejaring antarbudaya secara nasional dan internasional.
BACA JUGA:Cetak Rekor MURI 10.000 Lengger Bicara Sebuah Usaha Melestarikan Budaya Banyumas
Meski hujan sempat mengguyur kawasan Stadion Satria, ribuan warga tetap antusias. Penonton dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lansia, rela bertahan demi menyaksikan tontonan budaya yang dikemas modern namun tetap sarat makna lokal.
Salah satu seniman yang turut tampil, Nola, menilai gelaran tahun ini lebih matang secara kualitas dibanding tahun sebelumnya. Ia mengapresiasi kolaborasi yang erat antara para seniman lokal yang menurutnya membawa warna baru pada pementasan.
"Pertunjukan tahun ini tampil lebih kuat secara kualitas. Kolaborasi antarseniman berhasil menyajikan pertunjukan yang benar-benar hidup dan bermakna," ujarnya.
Tak hanya itu, Nola juga menyoroti pengemasan cerita yang menarik melalui format drama musikal. Ia menilai pendekatan ini sangat efektif dalam menyampaikan edukasi sejarah asal-usul tarian lengger secara ringan dan menyenangkan.
BACA JUGA:UMP Kerahkan Relawan Hijau Mahasiswa Bersihkan Sampah di Rekor Muri 10 Ribu Lengger Bicara
"Format drama musikal kali ini sangat menarik. Ada nilai edukasi sejarah tentang Lengger yang dikemas artistik dan mudah dipahami," jelasnya.
Ia berharap Lengger Bicara terus menjadi agenda budaya tahunan yang tak hanya mendorong lahirnya ide-ide baru dari seniman lokal, tetapi juga menjadi magnet ekonomi bagi pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.
"Semoga ini bisa jadi event rutin yang memberi ruang lebih luas bagi kreativitas seniman lokal dan mendukung roda perekonomian masyarakat," pungkasnya. (dms)