Banner v.2

120 Pusaka Pendopo Banyumas Dirawat dengan Modern, Barcode Dipasang, Mitos Dijelaskan Ilmiah

120 Pusaka Pendopo Banyumas Dirawat dengan Modern, Barcode Dipasang, Mitos Dijelaskan Ilmiah

R Dwi Hana Satria Wibawa saat menunjukan salah satu keris koleksi ruang Pusaka Kantor Bupati Banyumas, Jumat (24/4/2026)-DIMAS PRABOWO/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Sebanyak 120 benda pusaka berupa keris, tombak, dan jimat tersimpan di kompleks pendopo Kabupaten Banyumas. Koleksi tersebut merupakan peninggalan para bupati terdahulu hingga tokoh bersejarah yang kini dirawat dengan pendekatan lebih modern.

Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui dokumentasi digital. Langkah ini dilakukan agar nilai sejarah tetap terjaga sekaligus mudah diakses masyarakat.

Staf Protokol sekaligus penanggung jawab pusaka, R Dwi Hana Satria Wibawa, menyebut sejumlah koleksi memiliki nilai historis tinggi. Di antaranya Tombak Kyai Genjring, Keris Kyai Nala Praja, Keris Kyai Sempana Bener, serta Keris Kyai Gajah Endro yang disebut peninggalan bupati pertama Banyumas.

Selain itu, terdapat pula keris dari Bali yang diduga berkaitan dengan Raja Jembrana. Pusaka tersebut diyakini memiliki hubungan sejarah dengan wilayah Kejawar.

BACA JUGA:Dugaan Larangan Hijab di Rita Mall Purwokerto Disorot, Manajemen Janji Evaluasi

“Ada juga pusaka tinggalan Singadipa, berupa panji Diponegoro dan tombak. Selebihnya merupakan peninggalan para bupati Banyumas terdahulu,” ujarnya.

Menurut Hana, berbagai fenomena yang kerap dianggap mistis sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Ia mencontohkan, pergerakan keris atau bunyi gamelan bisa dipengaruhi faktor fisika.

“Keris itu terbuat dari berbagai logam, sehingga bisa bereaksi terhadap medan magnet. Begitu juga gamelan yang berbunyi sendiri, bisa karena frekuensi gelombang suara di sekitarnya sama sehingga saling terhubung, atau akibat pemuaian logam,” jelasnya.

Sebagai bagian dari inovasi, seluruh koleksi kini telah dilengkapi barcode. Pengunjung cukup memindai untuk mengetahui informasi detail tanpa harus menyentuh benda pusaka.

BACA JUGA:Hadapi Ujian, Ratusan Siswa MTsN 1 Kebumen Gelar Mujahadah

“Kalau sering dipegang, rawan kotor dan bisa cepat berkarat. Maka kami pasang barcode agar informasi tetap bisa diakses tanpa harus menyentuh langsung,” katanya.

Meski mengedepankan pendekatan modern, perawatan tradisional tetap dijalankan. Setiap malam Jumat Kliwon, dilakukan ritual penggantian sesaji sebagai bagian dari tradisi.

“Selain doa, sesaji itu juga untuk pengharum ruangan dan mencegah serangga seperti ngengat, laba-laba, dan rayap agar tidak merusak koleksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, doa juga dipanjatkan untuk para pemimpin Banyumas agar dapat menjalankan tugas dengan bijak. Selain itu, doa ditujukan untuk keselamatan masyarakat secara umum.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: