Banner v.2

RDF TPST Sumpiuh Banyumas Menumpuk, Gandeng Pihak Ketiga

RDF TPST Sumpiuh Banyumas Menumpuk, Gandeng Pihak Ketiga

RDF menumpuk di hanggar TPST Sumpiuh belum terkelola maksimal. KSM sedang menjajal kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengurangi volume RDF, Selasa (14/4). -FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-

BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID - Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sumpiuh mulai menjajaki kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengatasi penumpukan Refuse Derived Fuel (RDF). Langkah ini diambil agar pengelolaan Sampah di hanggar bisa berjalan lebih optimal.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST Sumpiuh, Aris Widarto mengatakan, volume RDF di hanggar saat ini sudah cukup tinggi. Kondisi tersebut mendorong pihaknya mencari alternatif solusi agar tidak terjadi penumpukan berkelanjutan.

"RDF masih ada yang bernilai ekonomis, bisa dipilah lagi," kata Aris. Pernyataan ini menegaskan bahwa RDF tidak sepenuhnya menjadi limbah yang tidak bernilai.

Ia menjelaskan, sampah pelanggan yang masuk ke TPST Sumpiuh terlebih dahulu melalui proses pemilahan menggunakan mesin konveyor. Tahapan ini bertujuan memisahkan jenis sampah sebelum masuk ke proses lanjutan.

BACA JUGA:Cegah Parkir Liar Barrier Larangan Dipasang, Jalan Jenderal Sudirman Jadi Prioritas Penertiban Jelang Idul Fit

Selanjutnya, sebagian sampah yang masih tercampur antara organik dan non organik diproses menggunakan mesin gribig. Dari proses tersebut dihasilkan dua bentuk yaitu bubur sampah dan RDF.

Melihat kondisi RDF yang menumpuk, pihak ketiga tertarik untuk terlibat dalam pengelolaannya. Salah satu pihak ketiga, Suroso, menilai masih ada potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan dari RDF tersebut.

"Kita pilah lagi RDF ini, masih banyak sekali plastik yang bisa dimanfaatkan, semua yang tidak ada alumunium foilnya," ujar Suroso, Selasa (14/4). Ia menilai plastik tanpa kandungan aluminium foil masih memiliki nilai jual.

Namun demikian, pada tahap awal pemilahan ini, Suroso mengaku belum dapat menghitung secara pasti volume RDF yang bisa dikelola. Proses ini masih membutuhkan waktu untuk mengetahui pola dan kapasitas penyerapan.

Menurutnya, perlu dilakukan penghitungan interval agar diketahui seberapa besar RDF yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal ini penting untuk memastikan efektivitas kerja sama yang sedang dijalankan.

Suroso menambahkan, pengalamannya dalam pengelolaan sampah menjadi modal utama dalam menjalankan proses ini. Ia telah berkecimpung selama tiga tahun dalam penanganan sampah di Purbalingga.

Selain itu, ia juga pernah bekerja di TPST Sumpiuh selama kurang lebih lima tahun dalam pengelolaan sampah organik. Pengalaman tersebut diharapkan mampu mendukung optimalisasi pengelolaan RDF di lokasi tersebut. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: