Banner v.2

Serapan Kerja Masih Jadi PR, 48 Peserta Lolos Vokasi BLK Purbalingga

Serapan Kerja Masih Jadi PR, 48 Peserta Lolos Vokasi BLK Purbalingga

Peserta Pelatihan Vokasi Nasional Batch 1 menerima arahan teknis dari BLK Purbalingga.-Alwi Safrudin/Radarmas-

PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID - Sebanyak 48 peserta lolos seleksi Pelatihan Vokasi Nasional Batch 1 di BLK Purbalingga. Namun, efektivitas program dalam mendorong serapan kerja masih menjadi pekerjaan rumah.

Program ini hanya menampung 48 peserta dalam tiga kelas. Masing-masing bidang, yakni menjahit, tata rias, dan desain grafis, diisi 16 orang.

Plt Kepala BLK Purbalingga Kusworo menyebut peserta mendapatkan pelatihan gratis. Fasilitas yang diberikan meliputi uang transport, seragam, hingga sertifikasi BNSP.

“Di BLK Purbalingga tersedia tiga paket pelatihan, yakni menjahit, tata rias, dan desain grafis. Setiap kelasnya diisi oleh 16 orang,” katanya.

BACA JUGA:BLK Purbalingga Siapkan 9 Paket Pelatihan di Tahun 2026, Total Anggaran Capai Rp1,095 Miliar

Durasi pelatihan berbeda antarprogram. Menjahit dan desain grafis berlangsung 260 jam pelajaran, sedangkan tata rias hanya 180 jam atau sekitar 20 hari kerja.

Perbedaan durasi ini berpotensi memengaruhi kesiapan peserta. Terutama dalam menghadapi kebutuhan industri yang menuntut keterampilan spesifik.

“Tahap awal setiap paketnya ada pembekalan soft skill selama 3 hari,” tambahnya.

Seleksi dilakukan melalui aplikasi Siap Kerja. Peserta harus lolos asesmen digital sebelum mengikuti wawancara di kantor BLK.

BACA JUGA:BLK Tutup Tahun 2025 dengan Pelatihan Servis AC dan Rias Wajah

Meski seleksi disebut ketat, belum ada jaminan lulusan langsung terserap kerja. Minimnya keterkaitan dengan kebutuhan industri lokal masih menjadi kendala klasik.

Peserta asal Bojongsari, Dewi Ramdani berharap pelatihan bisa membuka peluang usaha mandiri. Ia mengaku baru pertama kali lolos setelah sebelumnya gagal.

“Pernah ikut daftar tapi ini kali pertama lolos. Harapannya bisa buat usaha merias dan menambah kemampuan diri,” ujarnya.

Peserta lain, David Nur menilai keterampilan menjahit berguna untuk kebutuhan dasar. Namun, belum tentu langsung berorientasi pada pekerjaan formal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: