Hikmah Berpuasa Ditinjau dari Aspek Psikologi, Sosial, dan Kesehatan
Kemal Zia’ul Umam (Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi UMP, Kader PC IMM AK Anshori)--
Oleh: Kemal Zia’ul Umam
(Mahasiswa S1 Program Studi Psikologi UMP, Kader PC IMM AK Anshori)
Secara kodrati, manusia memiliki kebutuhan dasar berupa makan, minum, dan pemenuhan biologis demi kelangsungan hidup. Ghazali (2005) mendefinisikan dorongan alami ini sebagai syahwat.
Keinginan tersebut mendorong manusia untuk berinteraksi dan membentuk tatanan sosial dalam lingkup bangsa maupun negara. Namun, untuk mencapai tatanan dunia yang ideal, diperlukan ketertiban umum dan kualitas individu yang mumpuni.
Ketertiban umum dapat dicapai jika individu-individu di dalamnya berkualitas. Sementara kualitas individu hanya dapat dicapai melalui self-control, mengingat dorongan batin sering kali sulit dikontrol dan tidak semua keinginan dapat dipuaskan tanpa memicu kekacauan.
Self-control atau pengendalian diri merupakan kemampuan untuk membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ke arah yang berdampak positif (Hasanah et al., 2023). Pelatihan self-control dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya adalah melalui puasa.
BACA JUGA:Safety Driving: Sein Kiri Belok Kanan dan Bahayanya di Jalan Raya
Zarqani (2003) menjelaskan bahwa puasa merupakan instrumen pengendalian diri yang mencakup tiga dimensi, yaitu spiritual (rûhiyyah), moral (akhlâqiyyah), dan kesehatan. Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk menahan kebutuhan esensial secara sadar.
Latihan ini bertujuan agar individu mampu membentengi diri dari perolehan harta yang tidak halal, seperti korupsi atau pencurian, serta menjaga integritas moral dengan mengendalikan libido.
Selain aspek moral, puasa juga berfungsi sebagai sarana refleksi sosial. Rasa lapar dan haus saat puasa menumbuhkan empati serta solidaritas terhadap kelompok prasejahtera (Syarifudin, 2024).
Hal ini menyadarkan mereka yang memiliki jabatan dan kekayaan bahwa kedudukan tersebut bersifat sementara dan dapat dicabut sewaktu-waktu oleh Allah SWT, sehingga tidak ada sekat pembeda hakiki antara si kaya dan si miskin.
BACA JUGA:Ramadan Momentum Berdamai dengan Diri Sendiri
Dari sisi kesehatan, puasa memberikan waktu istirahat bagi organ pencernaan yang biasanya bekerja terus-menerus. Proses pencernaan makanan memerlukan waktu sekitar delapan jam hingga lambung benar-benar kosong dan nutrisi terserap sempurna.
Meskipun kuantitas asupan berkurang saat berpuasa, kualitas penyerapan gizi justru meningkat karena organ tubuh tidak terbebani oleh aktivitas pencernaan yang berlebihan (Rofiah & Yasid, 2025).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

