Ramadan dan Etika Kepemimpinan: Integritas sebagai Refleksi Spiritual bagi Gerakan Antikorupsi
Dosen PPKn & Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Muhammadiyah Purwokerto-HUMAS UMP UNTUK RADARMAS-
Oleh: Efi Miftah Faridli
Dosen PPKn & Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Muhammadiyah Purwokerto
BULAN Ramadan bukan sekadar momentum ritual keagamaan, melainkan ruang transformasi moral dan sosial. Dalam perspektif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Ramadan dapat dibaca sebagai laboratorium etika publik. Ia melatih disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan empati—nilai-nilai yang juga menjadi fondasi kepemimpinan berintegritas.
Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap praktik kekuasaan serta maraknya penyimpangan moral dalam tata kelola pemerintahan, Ramadan menghadirkan relevansi etis yang sangat kontekstual.
Sebagai dosen pendidikan antikorupsi, Ramadan dipandang bukan hanya sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter bangsa. Puasa mengajarkan pengendalian diri (self-restraint), sedangkan korupsi berakar pada kegagalan mengendalikan diri (self-indulgence). Di sinilah Ramadan memiliki dimensi strategis dalam penguatan budaya antikorupsi.
1. Puasa sebagai Pendidikan Integritas
Secara teologis, puasa Ramadan bertujuan membentuk manusia bertakwa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183. Namun dalam perspektif etika publik, puasa juga merupakan latihan integritas.
Integritas berarti keselarasan antara nilai, kata, dan tindakan. Puasa melatih seseorang untuk jujur bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Konsep ini selaras dengan nilai dasar antikorupsi yang dikembangkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia sejak 2009, yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Kesembilan nilai tersebut sesungguhnya terinternalisasi dalam praktik Ramadan.
Hikmah yang dapat ditarik dari nilai-nilai antikorupsi tersebut antara lain:
a. Kejujuran spiritual, yaitu tidak membatalkan puasa meski tidak terlihat orang lain.
b. Disiplin waktu, seperti sahur dan berbuka tepat waktu serta menjalankan salat wajib dan sunnah sesuai tuntunan.
c. Kesederhanaan, yakni menghindari perilaku konsumtif dan merasa cukup dengan rezeki yang diperoleh pada hari itu.
d. Empati sosial, melalui praktik zakat, infak, dan sedekah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
