Banner v.2

1.200 Umat Ikuti Ciswak di Boen Tek Bio, 91 Putra Sulung Jalani Prosesi Ruwatan

1.200 Umat Ikuti Ciswak di Boen Tek Bio, 91 Putra Sulung Jalani Prosesi Ruwatan

Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Boen Tek Bio Banyumas menggelar sembahyang ciswak ruwatan putra sulung massal, Minggu (1/3).-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-

BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID - Ribuan umat memadati Klenteng Boen Tek Bio BANYUMAS saat digelar sembahyang ciswak ruwatan putra sulung massal, Minggu (1/3). Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun selama sekitar 35 tahun ini kembali menjadi momentum spiritual yang menyatukan umat dari berbagai daerah.

Humas Klenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobita Nanda, mengatakan setiap tahun pihaknya rutin menyelenggarakan sembahyang ciswak ruwatan putra sulung massal. Waktu pelaksanaan dipilih di antara setelah sembahyang Tuhan Allah dan sebelum sembahyang Cap Go Meh agar umat dapat beribadah bersama-sama.

"Peserta sembahyang ciswak tahun ini diikuti oleh sekira 1.200 orang dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri, enam orang dari Belanda. Sedangkan peserta ruwatan ada 91 orang," papar Sobita di klenteng usai acara.

Dalam kepercayaan budaya Jawa, anak laki-laki sulung atau anak laki-laki tunggal dalam satu keluarga diyakini akan menghadapi ujian hidup yang besar atau sengkala. Karena itu, mereka didoakan agar lebih kuat secara batin dan mendapat pengayoman dari Tuhan.

BACA JUGA:Puasa dan Tradisi Literasi

Tradisi ruwatan di klenteng tersebut memadukan unsur budaya Jawa dan Tionghoa dalam satu prosesi sakral. Ritual ruwat menggunakan simbol burung merpati yang terlebih dahulu diperciki air dari sumur dengan lima sumber mata air serta bunga-bungaan.

"Pemercikan air bertujuan untuk memohon keberkahan ilahi, sehingga simbol yang dilepas mendapat restu dari Tuhan," sambung Sobita.

Sebanyak 70 merpati warna-warni dan sepasang merpati putih kemudian dilepaskan ke udara sebagai bagian dari prosesi. Merpati dimaknai sebagai simbol berbagai persoalan dan dinamika kehidupan yang diharapkan dapat terlepas seiring keyakinan dan doa kepada Tuhan.

Dengan melepas burung merpati, umat meyakini segala sengkala dan kesulitan hidup akan ikut terurai. Prosesi ini menjadi simbol pengharapan agar perjalanan hidup putra sulung lebih ringan dan penuh berkah.

BACA JUGA:Dugderan Menyambut Ramadan Kembali Menggema di MAJT, Tradisi yang Perlu Terus Dilestarikan

Setelah rangkaian ritual selesai, peserta menerima satu amplop merah berisi rajah dan surat doa bertuliskan Mandarin. Selain itu, terdapat kantong kecil berisi beras, teh, dan gula pasir sebagai simbol kehidupan.

"Beras simbol kehidupan pokok, teh simbol obat dan kesehatan, gula simbol manis hidup, kenikmatan rejeki," jelas Sobita.

Amplop tersebut dibawa pulang dengan harapan memperoleh keberkahan bagi keluarga. Di rumah, kemasan beras, teh, dan gula dibuka lalu dicampurkan ke wadah masing-masing yang digunakan sehari-hari sebagai simbol menyatunya doa dalam kehidupan. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait