120.157 Kilometer dan 504 Anak Bergerak Bersama Wujudkan Cita-Cita
Hengky Prayitno di belakang kemudi Bus Sekolah.-Deni Arifianto/Radar Banyumas-
SERINGKALI pekerjaan yang dianggap sebagai rutinitas belaka justru membuahkan hasil yang di luar dugaan. Hengky Prayitno dan Aris Hermawan membuktikan itu. Tujuh tahun mereka duduk di belakang kemudi bus sekolah jurusan Kemawi - Somagede - Banyumas dan menorehkan angka 120.157 di odometer.
Tujuh tahun juga 504 anak telah merasakan dampak pengabdian tulus seorang sopir bus. Mereka mungkin tidak sadar aktivitasnya sehari-hari telah mengantarkan seorang calon abdi negara, bu guru, pak rektor atau bahkan seorang calon bupati. Siapa tahu?
DENI ARIFIANTO, Banyumas
Halte bus sekolah Kemawi terletak di bunderan Balai Desa Kemawi. Dua bus Hino ukuran medium bercat kuning dengan nomor polisi R 7037 XA dan R 7038 XA siap berangkat mengantar siswa setiap hari setiap pukul 06.00 pagi.
Kemawi yang terletak di ketinggian 149 M dari permukaan laut merupakan desa yang berhawa sejuk, berkontur perbukitan dan memiliki pemandangan indah. Berjarak 11 km dari kota lama Banyumas dan 26 km dari Purwokerto, desa ini tampak tenang, asri dan hijau.
Hengky berbincang santai dengan Aris sesaat sebelum mengantarkan siswa. Keduanya adalah sopir bus sekolah yang setiap hari menyusuri jalan menurun dari Kemawi, Klinting, Somagede hingga Pendopo kota lama kecamatan Banyumas.
Aktifitas dua sopir asal Desa Klinting dan Kemawi itu telah berlangsung selama hampir tujuh tahun, tepatnya sejak Juni 2019.
“Operasional bus berkapasitas 26 tempat duduk dan 10-15 handgrip ini sempat terhenti saat pandemi covid 19 merebak” ujar Hengky.
Perjalanan pengantaran ke sekolah benar-benar berhenti total selama 2,5 tahun hingga Januari 2022. Selama covid, bus dialihkan untuk mengangkut mereka yang akan menjalani isolasi.
“Alhamdulillah kami sehat selalu meskipun harus mengantar mereka yang harus menjalani isolasi di Baturraden dan tempat lainnya” lanjut Hengky.
Hengky bersyukur bisa mengenakan seragam driver dan mengantar anak-anak setiap hari. Dia juga senang karena kini bisa pulang ke rumahnya di Klinting setiap hari, mengingat sebelum bekerja sebagai sopir bus dia bekerja di PT Elnusa yang mengharuskannya merantau ke luar pulau hingga Papua selama bertahun-tahun.
“Keinginan keluarga agar bisa menunggui kelahiran anak ketiga membuat saya resign dan balik ke kampung halaman dan menjadi sopir bus sekolah hingga saat ini” kenangnya.
Dalam bekerja Hengky selalu bekerja sesuai SOP, misal dalam hal pengiriman data ke pusat berupa manivest dan foto penumpang di titik awal pemberangkatan dan titik pengantaran terakhir.
“Di aplikasi handphone juga ada survey kepuasan pelanggan dengan scan barcode, kolom pengaduan dll, karena itulah saya selalu menjaga pelayanan dan disiplin selama mengemudi” papar Hengky.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
