Banner v.2

Beras Jenggawur Tak Pernah Sepi Peminat, Panen Belum Datang tapi Pesanan Sudah Mengular

Beras Jenggawur Tak Pernah Sepi Peminat, Panen Belum Datang tapi Pesanan Sudah Mengular

Beras Jenggawur, primadona Banjarnegara yang laris manis.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-

Beras Premium Jadi Incaran Pedagang hingga Luar Daerah

JAUH sebelum bulir padi menguning, nama Jenggawur sudah banyak disebut lebih di pasar. Di kalangan pedagang beras hingga ibu rumah tangga di Banjarnegara, “beras Jenggawur" identik dengan tekstur pulen, wangi, dan harga yang tak pernah jatuh. Panen belum datang, pesanan sudah banyak yang mengantri.

PUJUD ANDRIASTANTO / BANJARNEGARA

Beras yang lahir dari sawah-sawah Desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu ini, menempati kelas tersendiri. Reputasinya kerap disejajarkan dengan Delanggu dari Klaten, Pandanwangi dari Cianjur, dan Brastagi dari Sumatra Utara. Di mana itu merupakan nama-nama besar di peta beras premium nasional.

Menurut Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjarmangu, Cahyana Sembada, rahasia keistimewaannya tidak semata soal varietas.

"Ini soal lokasi. Tanah Jenggawur punya karakter sendiri, dan airnya langsung dari Sungai Merawu. Itu yang bikin rasa nasinya beda, meskipun varietasnya sama dengan daerah lain," ujar Cahyana.

BACA JUGA:Batu Berundak Igir Karem Terkuak, Antara Jejak Sejarah dan Kisah yang Terserak

Saat ini, petani Jenggawur mengandalkan varietas Inpari 32 sebagai tulang punggung produksi. Varietas lama seperti IR 64 mulai ditinggalkan, sementara Barito yang disebut-sebut paling unggul dari sisi rasa kian menyempit luas tanamnya.

Dari total 121 hektare sawah baku, produktivitas padi Jenggawur terbilang tinggi. Rata-rata panen mencapai 5 ton, bahkan bisa menembus 7,5 ton gabah kering panen per hektare.

"Harga gabahnya juga lebih baik. Di tingkat petani minimal Rp 6.500 per kilogram (KG). Kalau sudah jadi beras, di pasar bisa Rp 14 ribu sampai Rp 16.500 per kg," kata Cahyana.

Harga dan kualitas itu pula yang membuat beras Jenggawur jadi incaran pedagang luar daerah. Tengkulak dari Wonosobo, Semarang, hingga Jakarta tak segan menggunakan sistem inden. Gabah dipesan jauh hari, bahkan saat padi masih hijau di sawah.

BACA JUGA:Akmal Nashrur Rizky, Remaja Kebumen yang Antar Indonesia Juara ASEAN Boys Futsal Championship 2025

Di tengah tingginya permintaan, tantangan justru datang dari sektor tenaga kerja. Buruh tani semakin sulit dicari. Untuk menjawab persoalan itu, Dinas Pertanian mulai mengenalkan mekanisasi, salah satunya penggunaan drone untuk pemupukan dan penyemprotan.

"Kalau manual, satu hektare bisa seharian. Pakai drone, satu jam selesai," jelas Cahyana.

Harga satu unit drone memang tak murah, sekira Rp 270 juta. Namun, teknologi ini dinilai sebagai jalan keluar agar produksi tetap efisien di tengah perubahan zaman.

Kepala Desa Jenggawur, Pranyoto, menyoroti persoalan irigasi yang sempat mengganggu pola tanam serentak dalam dua tahun terakhir, setelah Bendungan Clangap jebol.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: