Setrum Ikan Masih Marak di Tambak Banyumas, Warga Karangpetir Resah
Warga masih mempertahankan cara tradisional untuk menangkap ikan, Rabu (14/1). Sehingga mereka merasa prihatin ketika melihat masih adanya aktivitas destructive fishing.-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-
BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID – Praktik destructive fishing atau penangkapan ikan dengan cara merusak masih terus terjadi di wilayah Desa Karangpetir, Kecamatan Tambak. Ironisnya, aktivitas ilegal tersebut berlangsung meski papan larangan penangkapan ikan menggunakan obat maupun setrum sudah terpasang jelas, lengkap dengan ancaman sanksi denda yang terpampang besar di lokasi.
Sejumlah warga mengaku masih kerap memergoki pencari ikan yang menggunakan alat setrum listrik, terutama saat malam hari. Aktivitas tersebut dinilai sangat meresahkan karena merusak ekosistem perairan yang selama ini menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang aktivitas warga.
Sulastri, warga Desa Karangpetir, menuturkan bahwa praktik penangkapan ikan menggunakan setrum bukanlah hal baru. Ia bahkan secara aktif melaporkan kejadian tersebut kepada perangkat desa setiap kali melihat pelanggaran terjadi di lingkungannya.
“Saya laporkan ke perangkat desa kalau melihat ada orang cari ikan memakai setrum di sekitar sini,” ujar Sulastri, Rabu (14/1).
BACA JUGA:Diduga Hendak Mencuri Berakhir Tragis, Pemuda 19 Tahun Tewas Tersetrum di Atas Plafon Gudang
Menurutnya, penggunaan setrum listrik sangat membahayakan keberlangsungan sumber daya ikan. Ia mengaku prihatin karena cara tersebut tidak hanya mematikan ikan berukuran besar, tetapi juga ikan kecil, benih, hingga telur-telur ikan yang seharusnya menjadi generasi penerus ekosistem perairan.
Sulastri menyayangkan masih adanya pelaku yang nekat melakukan penangkapan ikan secara merusak, padahal larangan sudah dipasang dengan tulisan besar dan sangat jelas. Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan.
Di sela waktu senggang, Sulastri bersama beberapa warga lainnya tetap memilih cara tradisional untuk mencari ikan, yakni menggunakan anco. Metode konvensional tersebut terus dipertahankan sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan keberlanjutan sumber daya perairan desa.
Ia menegaskan dirinya sama sekali tidak tertarik menggunakan alat setrum maupun obat-obatan untuk menangkap ikan. Bagi warga setempat, cara tradisional dinilai lebih aman, ramah lingkungan, serta tidak merusak keseimbangan alam.
BACA JUGA:Jembatan Penghubung Petir–Pucung Bedug Banjarnegara Ambruk, Truk Pasir Terjun ke Sungai Sapi
“Biasanya yang pakai setrum bukan asli sini. Jolokan, orang dari luar desa. Kami lihat cari belut juga distrum,” imbuhnya di lokasi.
Penggunaan setrum listrik dalam penangkapan ikan diketahui berujung pada kematian massal organisme air. Tak hanya ikan dewasa, benih, telur ikan, hingga organisme kecil lain dalam ekosistem turut mati. Kondisi tersebut sangat merugikan karena berdampak jangka panjang terhadap keseimbangan lingkungan perairan.
Selain menggunakan anco, warga Desa Karangpetir juga masih memanfaatkan jala sebagai alat tangkap tradisional. Wilayah Desa Karangpetir bagian selatan dikenal sebagai salah satu spot favorit bagi pencari ikan. Di kawasan tersebut, terdapat beragam jenis ikan, belut, hingga kepiting yang menjadi sumber tangkapan warga. (fij)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
