Produksi Beras Purbalingga Masih Surplus 16.761 Ton
Panen benih padi di persawahan Mewek beberapa bulan lalu. Dinpertan catat surplus beras di tahun 2025.-Alwi Safrudin/Radarmas-
PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID – Kabupaten Purbalingga masih mencatatkan surplus beras pada tahun 2025, meski secara bulanan terjadi dinamika surplus dan defisit akibat perbedaan masa panen. Data ini berdasarkan angka prediksi produksi padi yang dihitung Badan Pusat Statistik (BPS) melalui metode Kerangka Sample Area (KSA).
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, mengatakan angka resmi memang belum dirilis BPS. Namun, hasil prediksi yang ada menunjukkan selisih yang tidak jauh dari angka final nantinya. Dari hasil perhitungan tersebut, luas panen padi di Purbalingga tercatat mencapai 26.974 hektare.
"Dari luas panen tersebut, BPS juga menghitung sampai angka produksi. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling mencapai 149.522 ton. Jika dikonversi menjadi beras, jumlahnya sekitar 85.984 ton dengan produktivitas rata-rata 5,4 ton per hektare," jelasnya, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, angka produksi beras tersebut merupakan produksi netto yang benar-benar siap untuk dikonsumsi manusia. Dalam perhitungan itu, BPS telah mengurangi kebutuhan padi untuk benih, industri, serta susut atau kehilangan hasil yang mencapai sekitar 10 persen.
BACA JUGA:Stok Beras Aman Hingga Akhir Tahun, Pemkab Klaim Produksi Suprlus 16.761 Ton
"Itu sudah menjadi produksi beras netto. Menghitung surplus dibandingkan dengan konsumsi pangan manusia. Jadi kita hanya mengambil beras yang benar-benar untuk dimakan," katanya.
Sementara itu, kebutuhan beras masyarakat Purbalingga dihitung berdasarkan jumlah penduduk sekitar 1 juta 15 ribu jiwa. Dengan konsumsi beras per kapita sebesar 68,2 kilogram per orang per tahun, total kebutuhan beras di Purbalingga mencapai 69.223 ton per tahun.
"Penduduk Purbalingga setiap bulan menghabiskan sekitar 5.769 ton beras. Kalau dikalikan 12 bulan, totalnya 69.223 ton per tahun," terangnya.
Dengan produksi beras netto sebesar 85.984 ton, Hafidhah menyebut Purbalingga masih mengalami surplus beras sebesar 16.761 ton. Namun demikian, kondisi surplus tersebut tidak terjadi merata sepanjang tahun.
BACA JUGA:Bukan Langka, Beras Premium Kurang Diminati di Purbalingga
Menurutnya, secara bulanan terdapat periode surplus dan defisit yang hampir seimbang. Pada Januari 2025, misalnya, Purbalingga mengalami defisit karena produksi hanya sekitar 2.412 ton, jauh di bawah kebutuhan bulanan sebesar 5.769 ton. Kondisi berbalik pada April saat panen raya, dengan surplus mencapai 8.850 ton dan berlanjut hingga Juni.
"Juli dan Agustus kembali defisit karena masa panen sudah lewat. Lalu mulai September sampai November kembali surplus, dan Desember kembali defisit," ucapnya.
Dengan pola tersebut, selama setahun Purbalingga mengalami enam bulan surplus dan enam bulan defisit. Namun secara total tahunan, produksi beras masih mencukupi dan tetap menyisakan surplus untuk daerah. (alw)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

