Jlegi Fun River Tawarkan Keseruan Wisata Air
Wisatawan tengah menikmati keseruan bermain di Jlegi Fun River, Desa Desa Jlegiwinangun,Kecamatan Kutowinangun.--
KEBUMEN - Para pecinta kegiatan wisata, khususnya wisata alam di Kabupaten Kebumen mendapat kabar gembira. Ini setelah ada wisata baru yang menarik dan menantang, yakni Jlegi Fun River.
Obyek wisata ini berlokasi di aliran Sungai Badegolan, Desa Jlegiwinangun, Kecamatan Kutowinangun. Sebagai obwis yang tergolong baru, tempat ini sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan.
Ketua Pokdarwis Saka Bumi Desa Jlegiwinangun, Susanto, menjelaskan Jledi Fun River pertama kali dibuka untuk wisata pada 12 Desember 2025.
Wisata ini memanfaatkan aliran Sungai Badegolan yang melintasi Desa Jlegiwinangun dan dikelola langsung oleh Pokdarwis setempat yang mayoritas diisi oleh para pemuda desa. Mengusung konsep eco tourism, wisata ini tak hanya menjadi tempat rekreasi namun sekaligus edukasi.
BACA JUGA:Warga dan Perangkat Desa Tirtomoyo Kebumen Swadaya Lahan KDMP
BACA JUGA:Pemkab Kebumen Siapkan Rp 1,6 Miliar Renovasi Tahap 2 Stadion Candradimuka
Lintasan wisata ini menyusuri Sungai Badegolan sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam. "Obwis ini tidak hanya sekadar rekreasi, tetapi juga ada edukasi cinta lingkungan, khususnya menjaga kebersihan sungai dari sampah," ujarnya, kemarin (5/1).
Sejumlah wahana ditawarkan. Salah satu yang menarik, Fun Tubing yakni hanyut menggunakan ban karet dari Bendungan Badegolan hingga titik finis.
Kemudian, fun Cano dimana wisatawan dapat mendayung melawan arus menuju bendungan. Tak kalah menarik, Fun Marine Bridge berupa wahana halang rintang anak-anak di atas jaring untuk menyeberangi sungai.
Untuk harga tiket, pengelola membanderol mulai Rp10 ribu bagi pelajar dan Rp15 ribu untuk umum. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas parkir gratis, dokumentasi, serta minuman es degan gratis bagi pengunjung.
Susanto menambahkan, eco tourism juga diterapkan melalui pemberdayaan ekonomi lokal. Mulai dari penyediaan es degan yang melibatkan petani kelapa setempat, hingga stan kuliner yang diisi warga desa yang menjual aneka camilan hingga makanan berat. (cah)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

