Banner v.2

Menjaga Denting Tatah di Tengah Sepi Pengrajin Wayang Banjarnegara

Menjaga Denting Tatah di Tengah Sepi Pengrajin Wayang Banjarnegara

Pengrajin tatah, Bagong Sugiyanto mengamati wayang hasil karyanya.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-

Butuhkan Ketelatenan Tinggi

DI tengah hiruk pikuk Pasar Rakyat Banjarnegara, ada satu suara yang terdengar lirih namun konsisten, denting tatah yang beradu dengan kulit.

Dari sebuah lapak sederhana, Bagong Sugiyanto menekuni pekerjaannya, menghidupkan tokoh-tokoh wayang satu demi satu. Di era serba digital, ia memilih bertahan pada kesunyian proses.

PUJUD ANDRIASTANTO, Banjarnegara

Bagong atau akrab disapa Pak Bagong kini menjadi satu dari sedikit pengrajin tatah sungging yang masih produktif di Banjarnegara. Kondisi ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, jumlah perajin wayang di daerah ini terus menyusut dari tahun ke tahun.

“Faktanya, pengrajin wayang yang benar-benar produktif di Banjarnegara itu tidak lebih dari sepuluh orang. Dari keprihatinan itulah saya memilih tetap eksis. Bagi saya ini sudah bukan sekadar pekerjaan, tapi hobi sekaligus visi untuk menjaga warisan,” kata Bagong saat ditemui di sela Pasar Rakyat Banjarnegara, Selasa (30/12/2025).

BACA JUGA:Mengenal Junianto, Maskot Parkir Banyumas, Mainkan Peran Junny Si Tertib Parkir

Seni yang ia tekuni dikenal dengan istilah tatah sungging. Prosesnya panjang dan menuntut ketelatenan tinggi, mulai dari menggambar pola, memahat detail, hingga memberi warna. Setiap tahap dikerjakan manual, tanpa mesin, dengan ketelitian yang tak bisa ditawar.

“Pengerjaan satu wayang tidak bisa cepat. Tergantung ukuran dan kerumitan, paling cepat seminggu, bisa sampai tiga minggu bahkan sebulan. Karena itu saya selalu meminta pemesan untuk sabar. Rata-rata pesanan saya satu per bulan, dan kebanyakan untuk kelangenan, dipajang di rumah oleh kolektor atau pecinta wayang,” ujarnya.

Dalam urusan bahan, Bagong dikenal selektif. Ia mengutamakan kulit kerbau karena lebih elastis dan awet. Namun keterbatasan bahan baku membuatnya harus mencari ke luar daerah.

“Bahan terbaik tetap kulit kerbau, tapi sekarang jarang sekali disembelih di sini. Jadi saya ambil dari Yogyakarta atau Solo. Alternatifnya kulit sapi atau kambing yang didobel. Bahkan ada juga dari talang karpet untuk pemula atau segmen yang lebih ekonomis,” tuturnya.

BACA JUGA:Pembuktian Felicia Amadea Raih Prestasi di Ajang Trail Run Nasional

Meski berkarya dari daerah, hasil tangan Bagong tak berhenti di lingkup lokal. Beberapa karyanya pernah melanglang hingga luar negeri.

“Dulu lewat pertemanan saja karya saya sudah sampai Jepang. Sekarang dengan digital, batas itu sudah tidak ada lagi,” katanya.

Keahlian tersebut ia tekuni sejak 1988, mengikuti jejak sang ayah. Menariknya, Bagong memiliki metode belajar yang ia sebut terbalik.

“Versi saya, belajar tatah sungging itu dimulai dari mewarnai dulu, setelah paham detail baru memahat, dan terakhir menggambar. Kalau sudah bisa menggambar, artinya semua tahapan sudah dikuasai,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: