Menjaga Denting Tatah di Tengah Sepi Pengrajin Wayang Banjarnegara
Pengrajin tatah, Bagong Sugiyanto mengamati wayang hasil karyanya.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BACA JUGA:Menenun Asa dari Limbah Kapas: Jejak Estetika Benang Antih Tumanggal yang Mendunia
Saat ini, Bagong membuka ruang belajar bagi siapa saja, terutama anak muda yang tertarik pada dunia wayang. Baginya, ketertarikan generasi muda adalah tanda bahwa seni ini masih punya masa depan.
Soal harga, nilai karyanya sangat bergantung pada bahan dan tingkat kerumitan. Wayang sederhana dibanderol mulai Rp 350 ribu, sementara pesanan khusus bisa menembus jutaan rupiah.
“Pernah ada empat tokoh, masing-masing dihargai Rp 5,5 juta. Itu tergantung permintaan gaya dan detail dari pemesan. Saya berani memberi garansi kualitas,” katanya.
Di balik kesetiaannya menatah kulit demi kulit, Bagong menyimpan harapan agar seni kriya wayang mendapat perhatian lebih serius. Baginya, melestarikan wayang tidak cukup hanya mencetak dalang, tetapi juga memastikan para pengrajinnya tetap hidup dan berkarya. Sebab tanpa tangan-tangan seperti miliknya, denting tatah itu bisa benar-benar menghilang dari Banjarnegara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

