Banner v.2

Komoditas Tebu di Purbalingga Jadi Harapan Baru Saat Harga Singkong Terjun Bebas

Komoditas Tebu di Purbalingga Jadi Harapan Baru Saat Harga Singkong Terjun Bebas

Sosialisasi ekstensifikasi lahan tebu di Kecamatan Pengadegan, Selasa (11/11).-Dok Dinpertan Purbalingga-

PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID – Anjloknya harga singkong membuat petani di Kabupaten Purbalingga kelimpungan. Namun program ekstensifikasi tebu dari Kementerian Pertanian kini membuka harapan baru, menawarkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding singkong.

Selama ini singkong hanya dihargai Rp520 per kilogram di pabrik, sementara petani menerima sekitar Rp200 saja. Tak heran jika banyak petani mulai melirik tebu sebagai alternatif. Pemerintah pusat pun memberi dukungan penuh untuk memperluas areal tebu di lahan kering, memanfaatkan lahan singkong di wilayah potensial seperti Kejobong dan Pengadegan.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dipertan Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, menyebut potensi lahan yang bisa dialihkan cukup besar. 

"Di Kejobong ada sekitar 569 hektare, dan 590 hektare di Pengadegan. Itu lahan singkong yang memungkinkan dialihkan ke tebu," ujarnya.

BACA JUGA:Permintaan untuk MBG Tinggi, Harga Sejumlah Komoditas Sembako di Purbalingga Naik

Program ini bukan hanya imbauan. Pemerintah pusat memberikan bantuan nyata berupa 60 ribu benih mata tunas per hektare serta bantuan pengolahan lahan Rp3,6 juta. Jika dikonversikan, total bantuannya mencapai Rp14,5 juta per hektare.

Padahal, biaya produksi tebu per hektare dapat mencapai Rp30 juta. Artinya, petani cukup menanggung sekitar Rp16,5 juta. Tahun pertama jadi yang paling berat karena fokus pada bibit dan olah lahan.

"Tahun kedua sampai keempat petani tidak perlu beli bibit lagi. Tinggal mupuk dan rawat. Baru tahun kelima bongkar ulang," jelasnya.

Kekhawatiran klasik soal harga tebu dan kepastian pembelian juga dijawab pemerintah lewat kerja sama dengan Pabrik Gula Sragi Pekalongan.

BACA JUGA:Komoditas Unggulan Purbalingga Terancam, DPRD Siapkan Raperda

"Tebu petani dijamin terbeli. Pabrik gula tidak boleh tutup selama tebu masih ada di lapangan. Bahkan mereka siap mengundur musim giling untuk menunggu panen," tegas Hafidhah.

Harga pun sudah dipatok melalui SK Kepala Bapanas, sehingga petani tidak lagi dihantui anjloknya harga saat panen raya. Pola penjualan juga fleksibel: petani bisa dibayar berdasarkan hasil gula atau menjual tebu langsung dengan harga Rp71 ribu per kwintal dan rendemen minimal 7 persen.

Meski sosialisasi sudah berjalan, realisasi program diprediksi baru dimulai tahun depan. Petani terlanjur menanam singkong, jagung hingga pepaya sehingga belum bisa langsung beralih. Meski begitu, respons petani disebut sangat positif.

"Petani jelas senang. Dibanding singkong, tebu memang lebih menjanjikan. Tapi syaratnya harus lahan kering, bukan sawah," kata Hafidhah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: