Banner v.2

Serangan Tikus Mengganas, Petani Kalibening Terancam Gagal Panen

Serangan Tikus Mengganas, Petani Kalibening Terancam Gagal Panen

Petani di Desa Bedana, Kecamatan Kalibening saat mengecek area persawahannya dari serangan tikus.-HERI UNTUK RADARMAS -

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Para petani di Desa Bedana, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, tengah dihantui ancaman gagal panen. Serangan tikus yang kian meluas merusak padi mereka pada fase paling kritis, ketika tanaman sedang membentuk bulir.

“Padahal padi baru saja masuk fase 'meteng', tapi batangnya sudah bolong-bolong,” kata Winarto (54), petani setempat, Selasa (29/4/2025). 

Dengan wajah letih, ia menunjukkan hamparan sawahnya yang rebah tak berdaya. Padi yang seharusnya mulai menguning tampak kusam, beberapa bahkan rusak total.

Serangan ini, menurut Winarto, sebenarnya mulai terjadi dua pekan lalu. Namun para petani baru menyadari skala kerusakannya beberapa hari terakhir. “Awalnya dikira biasa, tapi sekarang tengah sawah bisa habis. Tanaman roboh dan menguning sebelum waktunya,” ujarnya.

BACA JUGA:69 CPNS Banjarnegara Terima SK, Bupati Tekankan Profesionalisme dan Loyalitas

BACA JUGA:Embun Es Muncul Lebih Awal di Dieng

Pola serangan tikus kali ini dianggap tidak lazim. Biasanya, gangguan terjadi saat awal tanam. Namun tahun ini, tikus justru menggempur pada usia 60–70 hari setelah tanam periode krusial dalam pembentukan buah.

“Kalau dulu cuma satu dua batang, sekarang bisa satu petak sawah habis, tersisa pinggirannya saja,” ujar Meji, petani lain di desa yang sama.

Ia menyebut berbagai cara telah dicoba: jebakan, racun, hingga gropyokan, tetapi hasilnya minim. “Tikus-tikus itu seperti belajar dari musim sebelumnya,” keluhnya.

Yanto, petani dari Blok Sindu, menambahkan bahwa kerusakan hampir merata di seluruh blok persawahan di Kalibening. Ia berharap pemerintah segera turun tangan. “Kami butuh lebih dari sekadar racun. Pemerintah harus lihat langsung kondisi kami,” katanya.

Menurutnya, lonjakan populasi tikus ini tak lepas dari hilangnya predator alami. “Dulu masih ada burung hantu. Sekarang habis. Kami minta ada dukungan untuk pengendalian ekologis, bukan hanya kimia,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kalibening, Heri Misanto, membenarkan laporan dari sejumlah kelompok tani. Ia menyebut pihaknya sedang menyiapkan bantuan darurat.

“Dalam waktu dekat kami akan distribusikan racun dan mercon asap ke kelompok tani terdampak,” kata Heri.

Namun ia belum bisa memastikan potensi kerugian panen. Menurutnya, langkah kolektif tetap menjadi kunci. “Kami dorong petani lakukan perangkap massal dan gropyokan serentak, terutama setelah panen. Kalau tidak dilakukan bersama-sama, populasinya sulit ditekan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: