Banner v.2

Multiplier Effect Bulan Ramadan

Multiplier Effect Bulan Ramadan

Budiyono, S.E., M.M. (Kepala Biro Aset dan Inventaris/BAI UMP)--

Umat muslim memiliki motivasi yang sangat tinggi untuk mendapatkan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga pada umumnya umat muslim meningkatkan intensitas ibadah terutama di 10 malam terakhir. Pada malam-malam tersebut umumnya umat muslim melakukan I’tikaf di masjid. Hal ini sesuai dengan hadits dari Aisyah r.a.: “Adalah Rasul SAW I’tikaf (di masjid) pada malam-malam 10 akhir Ramadan (yaitu mulai tanggal 21 sampai dengan 30). Sabdanya: “Carilah Lailatul Qadar pada 10 akhir malam Ramadan.” (HR. Bukhari Muslim).

B.Multiplier effect Bulan Ramadan Dalam Aktivitas Ekonomi

Multiplier effect bulan Ramadan dalam aktivitas ekonomi antara lain ditandai dengan adanya:

1.Lonjakan Perputaran Uang 

Bank Indonesia (BI) mencatat perputaran uang tunai pada periode Ramadan dan Idul Fitri tahun 2025 yang mencapai Rp 160,3 triliun atau sekitar 81,1% dari proyeksi sebesar Rp 180,9 triliun. Pada Ramadan-Lebaran tahun 2026 diproyeksikan mencatatkan perputaran uang hingga Rp 190 triliun, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang masif (infobanknews.com).

2.Stimulus Pemerintah

Pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 menjelang bulan Ramadan dan libur Idul Fitri. Dalam Paket Stimulus Ekonomi I-2026 tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan utama untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan menjaga momentum aktivitas ekonomi. Salah satu kebijakan utama adalah pemberian insentif di sektor transportasi. Diskon tarif transportasi, dengan total estimasi anggaran sebesar Rp 911,16 miliar dari APBN dan dukungan non-APBN. Guna mengantisipasi kepadatan perjalanan dan mengatur distribusi mobilitas masyarakat, pemerintah juga menerapkan kebijakan pengaturan kerja. Dalam Paket Stimulus Ekonomi I-2026 tersebut dicantumkan kebijakan work from anywhere (WFA) atau flexible working arrangement (FWA) pada tanggal 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026. Paket Stimulus Ekonomi I-2026 juga diarahkan untuk memperkuat daya beli masyarakat melalui bantuan sosial. Pemerintah akan menyalurkan bantuan pangan untuk memperkuat daya beli masyarakat berupa 10 kg beras dan 2 liter minyak goreng per bulan yang diberikan sekaligus untuk dua bulan (setkab.go.id).

3.Peningkatan Pendapatan UMKM

Sektor kuliner terutama takjil, fashion, dan oleh-oleh mengalami lonjakan penjualan yang cukup signifikan sehingga omzet UMKM meningkat. Pada umumnya UMKM khususnya sektor kuliner/takjil, beralih tempat lokasi penjualannya dengan mendekati ke wilayah bazar-bazar Ramadan yang tempatnya difasilitasi oleh pemerintah, swasta, maupun tokoh masyarakat. Dalam hal transaksi pembayaran saat ini pelaku UMKM menggunakan  metode pembayaran tunai maupun non tunai sehingga pembeli semakin dimudahkan.

4.Penyesuaian Produktivitas 

Meski konsumsi naik, terdapat penyesuaian produktivitas di mana jam kerja cenderung lebih pendek, namun hal ini diimbangi dengan peningkatan aktivitas ekonomi khususnya  pertokoan dan kuliner di malam hari yang pada umumnya menambah jam buka untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat.

5.Penukaran Uang Tunai

Bank Indonesia bersama perbankan kembali memperkuat layanan penukaran uang rupiah untuk menjawab kebutuhan ketersediaan uang layak edar bagi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri 2026. Layanan dikemas dalam program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul fitri (SERAMBI) 2026. Pada tahun 2026, BI menyiapkan Rp 8,6 triliun untuk layanan penukaran uang dengan nominal sebesar Rp 5,3 juta per paket (bi.go.id).

Dinamika multiplier effect yang kerap terjadi di setiap bulan Ramadan, tentu yang terpenting adalah bagaimana seorang muslim lebih bijak dalam mensikapi antara usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kewajiban menjalankan ibadah guna memposisikan diri sebagai seorang muslim yang bertaqwa dan berdampak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: