Bank Indonesia Purwokerto Mengembangkan Literasi Melalui Buku Cerita Anak-anak di Panti Asuhan

Bank Indonesia Purwokerto Mengembangkan Literasi Melalui Buku Cerita Anak-anak di Panti Asuhan

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia sedang membaca buku Waktu yang Kudamba, sebagai bentuk meningkatkan literasi melalui cerita anak-anak Panti Asuhan Bunda Serayu.-BI Purwokerto untuk Radarmas-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.DISWAY.IDBank Indonesia Kantor Perwakilan Purwokerto berperan serta menyebarkan kisah pergulatan dan perjuangan anak-anak Panti Asuhan Bunda Serayu, Banyumas melalui buku berjudul Waktu Yang Kudamba. Buku setebal 179 halaman ini merupakan buku seri kedua dari Di Tepi Serayu Aku Merindu. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Rony Hartawan mengharapkan, gerakan literasi di Banyumas kian berkembang dan anak-anak di panti asuhan kian mendapatkan perhatian lewat terbitnya buku ini.

"Dukungan Bank Indonesia dalam proses penerbitan buku ini diharapkan akan melengkapi khasanah literasi kita, serta menginspirasi pembaca untuk merasakan empati terhadap kehidupan mereka yang tinggal di panti asuhan," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Rony Hartawan. 

Rony menyampaikan, kehadiran manusia di dunia adalah karunia istimewa dalam perjalanan kehidupan. Ada yang terlahir penuh cinta, tapi juga ada yang terlahir dalam kondisi serba terbatas. Bagi mereka yang tumbuh dalam keterbatasan, Sang Ilahi menjalankan berbagai cara untuk berbagi, merawat, dan mengasuh. Salah satu wujudnya adalah kasih sayang yang diberikan oleh orang-orang yang peduli, para donatur, serta lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan.

"Kami melihat anak-anak sebagai tunas-tunas bangsa, sehingga semangat kami bersikap Building Nation harus diwujudkan dari unsur-unsur terkecil agar apa yang bangsa ini cita-citakan dapat tercapai hingga mengakar," jelasnya.

Kepala Panti Asuhan Bunda Serayu Banyumas Suster Christina, SJMJ berterima kasih kepada Bank Indonesia yang telah memberikan perhatian serta bantuannya untuk mewujudkan buku “Waktu Yang Kudamba”. 

"Di panti ini sekarang ada 39 anak. Lewat buku ini, kisah anak-anak dan juga karya di panti ini jadi bisa semakin dikenal oleh masyarakat luas. Tidak hanya di wilayah Banyumas, bahkan sampai di luar kota seperti Jakarta juga Batam," tutur Christina.

Penulis Buku Waktu Yang Kudamba Wilibrordus Megandika Wicaksono juga berterima kasih dan mengapresiasi dukungan Bank Indonesia dalam gerakan literasi ini. Lewat buku ini, kisah dan coretan kerinduan remaja di panti ini bisa terdokumentasi, terungkapkan, dan diharapkan bisa menggerakkan hati pembaca untuk berbelarasa kepada sesama. 

Megandika menyebutkan, Bank Indonesia begitu peduli dan setia memberi dukungan mulai dari buku pertama Di Tepi Serayu Aku Merindu (Gramedia Pustaka Utama, 2020) yang ditulis bersama rekan-rekan wartawan di Banyumas, hingga buku Waktu Yang Kudamba (Gramedia Pustaka Utama, 2023).

Buku kedua ini merupakan hasil proses penelitian serta tesis berjudul Konstruksi Makna Kasih Sayang Remaja di Panti Asuhan Bunda Serayu Banyumas (Juni, 2022).

Buku ini antara lain berisi tentang makna kasih sayang remaja panti. Sebagian memaknai kasih sayang sebagai hal yang dikenali atau dialami, tapi ada pula yang memaknainya sebagai sesuatu yang hilang bahkan pencarian. Panti ini tidak melayani adopsi anak, tetapi anak yang dibesarkan di sini diharapkan bisa kembali kepada orangtuanya tatkala sudah siap. Perkawinan di luar nikah, menjadi salah satu faktor ketidaksiapan keluarga menerima kehadiran anak. 

“Diharapkan lewat buku ini, pembaca terutama kaum muda bisa lebih bertanggung jawab dan menyiapkan masa depan sebaik mungkin. Jangan sampai anak-anak bertumbuh-kembang tanpa belaian kasih sayang orangtua,” kata Megandika. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: