Hasil Ujian Bioteknologi di Amerika Serikat: Golongan Darah A dan AB Rentan Tertular Corona

Hasil Ujian Bioteknologi di Amerika Serikat: Golongan Darah A dan AB Rentan Tertular Corona

ILUSTRASI penelitian darah. JAKARTA – Berdasarkan penelitian yang dilakukan perusahaan pengujian bioteknologi asal Amerika Serikat, 23andMe menyebutkan, bahwa mereka yang bergolongan darah B dan AB adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi virus corona (Covid-19). Dengan menggunakan hasil riset terhadap lebih dari 750.000 peserta, 23andMe menemukan bahwa orang dengan golongan darah O tampaknya lebih terlindungi terhadap virus corona, dibandingkan dengan golongan darah lain. Menurut hasil riset 23andMe, golongan darah seseorang dapat menentukan seberapa besar kemungkinan dia terjangkit virus corona. Mereka dengan golongan darah B dan AB adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi virus corona. Sementara, orang dengan golongan darah A berada di antara golongan darah O dan golongan darah B/AB. "Di antara para responden pada survei Covid-19 oleh 23andMe, persentase responden yang paling rendah melaporkan tes positif untuk Covid-19 adalah orang-orang yang memiliki golongan darah O. (Sementara), persentase responden tertinggi yang melaporkan tes positif untuk Covid-19 adalah mereka yang memiliki golongan darah AB," ungkap 23andMe dalam sebuah unggahan dikutip Alarabiyah, Rabu (10/6). Hasil dari penelitian tersebut juga dikontrol berdasarkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (BMI), dan etnik para responden, di samping faktor-faktor lainnya. Mereka dengan golongan darah O terbukti lebih kecil kemungkinannya untuk terjangkit Covid-19. Mereka juga tampaknya memiliki tingkat rawat inap yang lebih rendah karena virus, menurut riset itu. "Dalam seluruh populasi, mereka yang memiliki golongan darah O ternyata 9-18 persen lebih kecil mendapatkan hasil tes positif (corona) dibandingkan dengan kelompok lain. Ketika kami mengamati hanya orang-orang yang terpajan, mereka yang memiliki golongan darah O bahkan 13-26 persen lebih kecil untuk dites positif," tulis unggahan itu. Studi ini juga menemukan, bahwa tidak ada perbedaan signifikan tingkat infeksi pada responden jika membandingkan golongan darah rhesus mereka, baik positif maupun negatif (+ atau -). "Dalam data 23andMe kami menemukan bahwa perbedaan oleh faktor rhesus yang dilaporkan sendiri (golongan darah + atau -) tidak signifikan, juga tidak ada interaksi antara golongan darah dan faktor rhesus dalam model statistik yang memprediksi suatu kasus, atau kasus yang dirawat di rumah sakit," demikian pernyataan 23andMe. (der/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: