Flipina Tembak Mati Warga yang Melanggar Lockdown

Flipina Tembak Mati Warga yang Melanggar Lockdown

FILIPINA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte bertindak tegas mencegah penyebaran pandemuo corona di negaranya. Ia memerintahkan polisi dan tentara untuk menembak mati siapa saja yang membuat gaduh terkait pemberlakuan lockdown di Luzon. Ancaman tersebut disampaikan Duterte, terkait protes yang dilakukan sekelompok masyakarat miskin di Ibu Kota Manila, akibat dampak penguncian sejak bulan lalu sebagai imbas dari wabah virus corona (Covid-19). Duterte memperingatkan kepada siapa saja yang menghalangi para petugas medis, termasuk dokter. Menurutnya, perbuatan tersebut merupakan kejahatan serius. “Perintah saya kepada polisi dan tentara, jika ada yang membuat masalah, hidup mereka dalam bahaya, tembak mati mereka,” tegasnya Duterte, seperti dikutip dari Aljazeera, Kamis (2/4). “Biar ini menjadi peringatan bagi semua. Ikuti (anjuran) pemerintah untuk saat ini karena dalam kondisi kritis,” sambungnya. Otoritas kesehatan Filipina melaporkan, sejauh ini ada 2.311 kasus Covid-19, sebanyak 96 di antaranya meninggal. Sekelompok penduduk di daerah kumuh di Quezon, Manila, berunjuk rasa di sepanjang jalan raya untuk memprotes belum mendapat bantuan paket makanan dan bahan pokok sejak pemberlakuan lockdown 2 pekan lalu. Polisi dan tentara mendesak warga untuk kembali ke rumah, namun mereka menolak. Petugas pun membubarkan paksa unjuk rasa dan menangkap 20 orang. Pemimpin kelompok pengunjuk rasa Jocy Lopez (47) mengatakan, mereka terpaksa turun ke jalan karena tidak bisa mencari nafkah dan tak punya makanan sejak lockdown. “Kami di sini untuk meminta bantuan karena kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan lain atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan,” katanya. Sementara itu, beberapa kelompok HAM Filipina mengecam penangkapan itu dan mendesak pemerintah segera membebaskan warga serta memberikan bantuan uang tunai yang telah dijanjikan. Pemerintah Filipina menganggarkan 200 miliar peso atau sekitar Rp65 triliun untuk membantu keluarga miskin dan mereka yang kehilangan pekerjaan akibat lockdown. “Menggunakan kekuatan berlebihan dan penahanan tidak akan menghilangkan perut kosong warga Filipina yang, sampai hari ini masoh menagih janji bantuan uang tunai bagi orang miskin,” demikian pernyataan organisasi kelompok hak asasi perempuan, Gabriela. (der/fin/acd)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: