Indonesia Angkat Isu Palestina di KTT GNB

Indonesia Angkat Isu Palestina di KTT GNB

BAKU – Indonesia membawa isu Palestina dalam Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok (KTT GNB) Ke-18 di Baku Congress Centre, Baku, Azerbaijan, delegasi. Bagi Indonesia isu kemerdekaan Palestina telah menjadi prioritas selama masa jabatan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. “Penting bagi negara anggota GNB untuk mendukung peran Palestina dalam berbagai organisasi internasional termasuk kepemimpinan Palestina di G77 tahun ini,” ujar Duta Besar RI untuk Republik Azerbaijan Husnan Bey Fananie, Senin (28/10) Pertemuan KTT GNB dihadiri 21 kepala negara dan kepala pemerintahan, serta 49 pejabat pada tingkat menteri dan kepala parlemen serta delegasi lebih dari 121 negara anggota, pengamat GNB dan negara tamu. Selain Palestina, para kepala negara membahas isu pokok mengenai relevansi dan penghormatan terhadap Dasasila Bandung, pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, keamanan siber, pemberantasan terorisme dan upaya menentang unilateralisme. Indonesia meminta Gerakan Non Blok (GNB) bersatu dalam merespon isu-isu global. Hal tersebut diungkapkan dalam KTT GNB ke-18, di Baku, Azerbaijan, Sabtu (26/10). “Kerja sama GNB saat ini harus diarahkan bagi hal-hal yang membawa dampak konkret bagi rakyat,” ujar Ketua Delegasi Indonesia Duta Besar RI untuk Republik Azerbaijan, Husnan Bey Fananie dalam keterangan resminya. Husnan menilai, penguatan Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular antar negara-negara GNB sangat penting guna menjawab berbagai tantangan global. “GNB memiliki kekuatan jumlah anggota yang besar dan dapat menghasilkan dampak positif bagi pembangunan yang luas,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kamapradipta Isnomo juga menekankan kerja sama pembangunan dan ekonomi yang menurutnya berpotensi menjadi isu yang dapat memperkuat tali ikatan dan solidaritas GNB dalam menyikapi berbagai tantangan global. Pada 25 dan 26 Oktober 2019 KTT GNB Ke-18 di Baku Congress Center, Azerbaijan dihadiri 21 kepala negara dan kepala pemerintahan, serta 49 pejabat pada tingkat menteri dan kepala parlemen serta delegasi lebih dari 121 negara anggota, pengamat GNB dan negara tamu. KTT GNB mengambil tema Upholding the Bandung Principles to ensure concerted and adequate response to the challenges of contemporary world. KTT membahas upaya Gerakan dalam merespon isu-isu global dengan dilandasi Dasasila Bandung. Pada sesi pembukaan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros melakukan serah terima keketuaan GNB kepada Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Dalam sambutan pembukanya, Presiden Aliyev menekankan pentingnya penghormatan terhadap norma-norma hukum internasional, kedaulatan, integritas territorial dan kerja sama antara negara anggota GNB. Lebih lanjut, dia menghimbau agar GNB solid dalam menjalankan kepentingan negara berkembang di berbagai bidang termasuk ekonomi dan politik. Presiden Majelis Umum PBB, Duta Besar Tijjani Muhammad Bande turut hadir dalam sesi pembukaan. Dia menyampaikan pentingnya penyelesaian sengketa secara damai, serta penghormatan terhadap Piagam PBB dan HAM. Isu-isu pokok yang dibahas oleh negara anggota dalam sesi debat umum KTT GNB Ke-18 antara lain mengenai relevansi dan penghormatan terhadap Dasasila Bandung, solidaritas anggota GNB terhadap permasalahan Palestina, pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, keamanan siber, pemberantasan terorisme dan upaya menentang unilateralisme. Pertemuan menyepakati sejumlah dokumen keluaran utama yaitu NAM Final Document, Baku Declaration, dan Deklarasi Politik GNB untuk isu Palestina. Pertemuan KTT juga melaksanakan minutes of silence untuk mengenang para pemimpin negara anggota GNB yang telah berpulang, termasuk Presiden Republik Indonesia Ke-3, almarhum B.J. Habibie. GNB adalah organisasi internasional yang terdiri dari 120 negara, yang bertujuan untuk menjamin perdamaian internasional serta kemerdekaan, kedaulatan dan integritas territorial negara anggotanya. Indonesia merupakan salah satu pendiri GNB dan menjadi tuan rumah pelaksanaan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Dasasila Bandung sebagai cikal bakal berdirinya GNB pada tahun 1961.(der/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: