Monaco vs Juventus - Doa Yang Terkabul

Monaco vs Juventus - Doa Yang Terkabul

NYON – Kiper sekaligus kapten Juventus Gianluigi Buffon sekali lagi harus bersyukur karena harapannya selalu terkabul. Kalau di perempat final Juventus berharap terhindar dari Leicester dan kesampaian. Maka dalam drawing semifinal kemarin (21/4) di markas UEFA Buffon yang bermunajat agar Bianconeri, julukan Juventus, tak bertemu Atletico Madrid pun tercapai. Juventus 'hanya' akan bertemu Monaco, tim yang dipandang terlemah dan memiliki rangking terendah versi UEFA dibandingkan Real Madrid, Atleti atau Juventus. Dalam rekam jejak pertemuan antara Juventus lawan Monaco, raksasa Italia tersebut memang unggul. Diantara empat pertemuan, Juventus menang dua kali, sekali seri, dan sekali kalah. Pertemuan terakhir terjadi di perempat final Liga Champions 2014-2015 lalu dengan hasil lolosnya Juventus ke semifinal. Akan tetapi Wakil Presiden Juventus Pavel Nedved kepada Football Italia kemarin (21/4) mengatakan anggapan Juventus akan melenggang gampang ke final adalah salah. “Kami menghadapi tim yang berisi talenta muda yang banyak berlari dan justru tanpa beban. Itu selalu sulit akan tetapi saya melihat anak-anak Juventus fokus, tidak berselebrasi berlebihan, dan mereka berfokus untuk melangkah sejauh mungkin,” kata Nedved. Pengalaman Juventus bertemu dengan tim yang dihuni pemain muda memang tak akan gampang. Contohnya ketika bertemu AC Milan musim ini. Di level Serie A, Juventus sekali menang dan sekali kalah. Akan tetapi di Supercoppa Italia Desember lalu, Juventus kalah dalam adu penalti usai bermain imbang 1-1 di waktu normal. Monaco yang disebut Nedved tim sebagai tim berdarah muda, starting XI Monaco rata-rata berusia 25,28 tahun, maka Juventus secara usia ada di atasnya. Rerata usia sebelas pemain utama Juventus berusia 29,55 tahun. Nama-nama pemain Monaco yang berusia muda dan disorot banyak klub Eropa adalah Kylian Mbappé (18 tahun), Tiemoué Bakayoko (22 tahun), Fabinho (23 tahun), Bernardo Silva (22 tahun), Benjamin Mendy (22 tahun), dan Almamy Touré (20 tahun). Sedangkan di pihak Juventus banyak diantara yang berusia di atas 30 tahun. Misalnya Gianluigi Buffon (39 tahun), Andrea Barzagli (35 tahun), Dani Alves (33 tahun), Stephan Lichtsteiner (33 tahun), Giorgio Chiellini (32 tahun), dan Mario Mandžuki? (30 tahun). Akan tetapi meski dihuni oleh banyak pemain veteran namun Juventus menunjukkan satu hal yang sulit dilakukan tim manapun musim ini. Membuat tim seofensif Barcelona dibuat macet mencetak gol dalam 180 menit di perempat final Liga Champions lalu. “Saya sangat bahagia dengan apa yang sudah dilakukan anak-anak juga yang dilakukan Max (Massimiliano Allegri,red.) beserta stafnya. Saya percaya dan saya tak melihat partai besar (selain final) setelah Barcelona,” ucap mantan gelandang Juventus tersebut. Kalau bisa menjadi juara Liga Champions musim ini maka inilah persembahan bagi sosok Buffon. Kiper 39 tahun itu meski memiliki 113 kali penampilan Liga Champions akan tetapi tak sekalipun menjadi juara. Pada dua final yang dijalaninya, 2002-2003 dan 2014-2015, Buffon senantiasa mengalami kegagalan. Pada 2002-2003, Juventus dipukul oleh AC Milan. Sedang dua musim lalu Juventus ditaklukkan oleh Barca. Nah, selain titel duel tim berdarah muda versus pemain matang maka pertemuan Monaco lawan Juventus ini adalah pertemuan tim dengan lini bertahan terbaik lawan tim agresif. Juventus dalam sepuluh pertandingan hanya jebol dua gol. Bandingkan dengan Monaco yang boros karena sudah dijebol 16 gol dalam sepuluh laga di Liga Champions. Sebaliknya di lini penyerangan, Monaco membuat 21 gol, hanya kalah oleh Real yang membuat 28 gol. Juventus empat gol lebih sedikit dari Monaco dengan 17 gol. Sementara itu, duta Monaco Ludovic Giuly mengatakan secara taktikal Juventus sangatlah kuat. Dengan formasi 4-2-3-1 yang dipakai, Juventus memiliki keseimbangan menyerang maupun bertahan. “Kami akan menutup (pertahanan) dengan baik dan lebih memberi perhatian padanya. Taktik Italia sangat kuat, dengan banyak pemain hebat. Dengan semua daya yang kami punya, kami harus kuat dan memberikan semuanya,” tutur Giuly. Giuly juga memimpikan final yang pernah dilakukan Monaco pada musim 2003-2004 lalu. Sayangnya di final, Monaco menyerah kepada wakil Portugal FC Porto. “Kami tinggal dua laga lagi untuk menuju final dimana ini akan sangat bersejarah bagi klub. Kami membutuhkan untuk memelihara rasa tak gentar pada siapapun yang jadi kekhasan tim ini,” tambah Giuly. (dra)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: