Lagi-Lagi Spanyol

Lagi-Lagi Spanyol

BASEL - “UEFA beranggotakan 55 negara. Namun juara Champion League dan Europa League 2014, 2015, 2016 hanya dari satu negara, Spanyol,”cuit pundit ESPN Andy Mitten kemarin (19/5). foto-A-Kevin+Gameiro+Liverpool+v+Sevilla+UEFA+Europa+w_MM6da6Fhex Suka tidak suka memang demikianlah faktanya. Spanyol memang mendominasi daratan Eropa dekade ini. Seperti yang pernah dilakukan Inggris, Italia, ataupun Jerman di era-era sebelumnya. Kemarin (19/5) di St.Jakob Park pada partai puncak Europa League, Sevilla memukul Liverpool dengan skor 3-1. Kemenangan menegaskan Sevilla benar-benar raja Europa League. Total lima kali Sevilla menjuarai turnamen yang dulu bernama Piala UEFA itu. Liverpool membuat Liverpudlian, nama suporter Liverpool, bernyanyi terlebih dahulu. Daniel Sturridge mencetak gol indah dengan sepakan melengkung kaki kirinya di menit ke-35. Sevilla membalas dengan 'kejam' ketertinggalannya di babak pertama. Penyerang Sevilla Kevin Gameiro menyamakan kedudukan di menit pertama babak kedua dimulai (46'). Lalu kapten Sevilla Coke membuat dua gol (64, 70) yang memastikan Sevilla hattrick kampiun Europa League. “Saya cinta turnamen ini. Sukses kami yang sesungguhnya adalah perjalanan tim menuju final ini,” kata entrenador Sevilla Unai Emery dalam situs UEFA kemarin (19/5). “Kami menikmati tahun ini dan akhirnya kami tampil sebagai juara,” tambah Emery . Emery sangat jeli memaksimalkan potensi skuadnya di babak kedua. Statistik Sevilla di babak pertama versi UEFA sangat menyedihkan. Sevilla hanya tercatat melakukan satu tembakan. Itupun tidak memberikan ketegangan buat kiper Liverpool Simon Mignolet. Baru di babak kedua, para pemain Liverpool seperti mengejar bayangan. Para pemain klub asal Andalusia itu meningkatkan tempo dan umpan cepat. Hasilnya babak kedua bejalan 40 detik, Gameiro menceploskan bola ke gawang Mignolet memanfaatkan umpan Mariano Ferreira dari sisi kanan penyerangannya. Di babak kedua, Sevilla benar-benar teror yang gagal ditanggulangi oleh lini belakang The Reds, julukan Liverpool. Sebanyak sepuluh tembakan dilakukan Sevilla plus empat diantaranya on target. Sedang ball possession, Liverpool unggul 54 persen. Dalam statistik Whoscored, serangan Sevilla sangat dominan dari sayap. Pergerakan Mariano Ferreira-Coke di sisi kanan serta Vitolo-Sergio Escudero di sisi kiri jika ditotal mencapai 75 persen. Hanya 25 persen serangan Sevilla dari sisi tengah. Para pemain Sevilla juga lebih leluasa mengeksplorasi daerah pertahanan Liverpool. Buktinya sebanyak 45 persen tembakan Sevilla di area penalti Liverpool. Bandingkan dengan Liverpool yang persentase tembakan di area penalti Sevilla lebih kecil. Yakni 38 persen. Terlepas dari angka-angka tersebut Liverpool dalam laga kemarin memang kehilangan momentum beberapa kali. Dua diantaranya ketika Daniel Carrico melakukan handball. Pertama di menit ke-12 lalu kedua menit ke-52. Wasit Jonas Eriksson (Swedia) pun mendapat kritik tajam atas pengamatannya yang luput di laga kemarin. Tactician Liverpool Juergen Klopp pun sempat uring-uringan gara-gara Eriksson yang keputusannya merugikan Liverpool itu. Selain itu di menit ke-37 sundulan bek Dejan Lovren bisa membuat Liverpool unggul 2-0. Sayangnya heading tersebut dianulir gara-gara ketika bola masuk ke gawang Sevilla yang dijaga Davis Soria mengenai Sturridge yang ada di posisi offside. “Pada babak pertama, Liverpool bertahan dengan sangat rapat. Akan tetapi di babak kedua saya meminta pemain lebih lincah, lebih cepat, dan meninggikan pressing,” ucap Emery seperti diberitakan Marca. Kapten Sevilla Coke seperti diberitakan UEFA kemarin berkata Liverpool memberikan tekanan yang sangat berat di babak pertama. Akan tetapi Liverpool tidak siap dengan perubahan yang dimainkan Sevilla di babak kedua. “Kami tahu seandainya Liverpool punya sejarah comeback yang luar biasa. Ketika lawan Dortmund di second leg Europa League musim ini Liverpool melakukannya,” tambah pemain berusia 29 tahun. Seperti dimakan sejarahnya sendiri, Liverpool yang biasanya tertinggal gol lalu mengejar malah unggul duluan di laga kemarin. Dan Sevilla memanfaatkan kegugupan Liverpool usai dihentak gol cepat Gameiro di menit pertama babak kedua. “Ketika turun minum pelatih meminta kami membayangkan seandainya kami saat ini sedang bermain di kandang. Meski lagu-lagu Liverpool berkumandang, masih ada lagu fans kami disana,” jelas Coke. Coke pun menyebutkan seandainya Liverpool solid sampai pertengahan babak kedua mungkin akan lain ceritanya. Karena Sevilla berhasil mencetak gol cepat, maka bangkitlah spirit seluruh penggawa tim. Sementara itu, tactician Liverpool Juergen Klopp mengakui seandainya gol cepat Sevilla meluluh lantakkan mental skuadnya. James Milner dkk tidak siap dengan perubahan penyerangan Sevilla. Di mata pria kelahiran Stuttgart itu Sevilla bermain monoton di babak pertama. Yakni dengan mengandalkan bola panjang untuk menghindari pressing yang diberikan Liverpool. Di babak kedua, Sevilla meladeni pressing Liverpool namun dengan tambahan kecepatan. Para pemain Liverpool kelabakan dengan umpan pendek cepat ala Sevilla ini. “Kami jelas 100 persen kecewa dan frustrasi dengan hasil ini. Akan tetapi besok atau sehari kemudian kami akan memanfaatkan pengalaman getir ini untuk menghasilkan gelar,” ucap Klopp kepada The Guardian. Kegagalan kemarin seolah menambah rentetan kutukan Klopp jika bermain di final turnamen. Dalam enam final yang dilaluinya, dua bersama Liverpool dan empat bersama Dortmund, Klopp kalah lima kali. (dra)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: