Melihat Keseruan Nonton Bareng Keluarga Evan Dimas Darmono, Tidak Puas karena Kalah dan Evan Main Setengah Saj

Melihat Keseruan Nonton Bareng Keluarga Evan Dimas Darmono, Tidak Puas karena Kalah dan Evan Main Setengah Saj

SETIA MENDUKUNG: Ana Darmono, ibunda Evan Dimas (dua dari kanan), menyaksikan putranya bertanding saat nonton bareng di Surabaya tadi malam. RIANA SETIAWAN/JAWA POS SAAT Evan Dimas Darmono masuk di babak kedua, yel-yel dukungan diteriakkan mereka yang hadir dalam nonton bareng. Meski kalah telak, keluarga Evan masih berharap Indonesia bisa membalikkan keadaan di final Piala AFF leg kedua. FARID S. MAULANA, Surabaya "EVAN, Evan, Evan, Evan." Teriakan itu kencang terdengar di Balai Desa Jalan Ngemplak, Surabaya, dekat dengan rumah gelandang tim nasional (timnas) Indonesia Evan Dimas Darmono. Teriakan yang didominasi ibu-ibu yang kompak mengenakan baju berwarna merah itu begitu bersemangat ketika Shin Tae-yong memutuskan memasukkan pemain Bhayangkara FC tersebut di babak kedua. Ana Darmono, ibu Evan yang terlihat di antara kerumunan, hanya bisa komat-kamit. Melafalkan doa-doa agar anaknya bisa membantu Garuda ?julukan timnas Indonesia? yang tertinggal satu gol melalui pemain Thailand Chanathip Songkrasin pada menit ke-2 di final Piala AFF 2020. Ana juga tidak bisa lagi nyaman bernyanyi seperti di babak pertama. Matanya fokus ke layar yang menampilkan pertandingan. Dia lebih memilih duduk. Tidak berdiri seperti 45 menit sebelumnya. ’’Ayo Van, sing tenang,’’ katanya tiap kali anak sulungnya pegang bola. Di balai desa tersebut, memang rutin diadakan nonton bareng pertandingan selama Piala AFF 2020. Alasannya tentu saja karena adanya sosok kebanggaan Desa Ngemplak, Evan. Hampir tiap nobar, 50-an warga, termasuk keluarga Evan, tidak pernah absen. Lima belas menit sebelum laga, biasanya warga memadati lokasi. Beralas tikar, beberapa orang juga terlihat dengan sukarela membawa camilan. Ada kacang dan tentunya kopi hitam. Hebatnya lagi, walau Evan bukan pilihan utama di skuad Shin Tae-yong, warga Desa Ngemplak dan keluarga tetap selalu semarak tiap kali nobar. Dress code baju berwarna merah selalu menjadi andalan. Kadang chant-chant yang dinyanyikan anak-anak muda terdengar begitu lantang. Pada nobar tadi malam, hal itu juga terlihat. Tapi tidak sepanjang pertandingan. Tepat ketika timnas kebobolan gol keempat, suasana langsung hening. Satu per satu warga, termasuk ibu Evan, meninggalkan lokasi nobar karena kecewa. Sebenarnya pada final leg pertama tadi malam, istri Evan, Dewi Zahrani, rencananya ikut nobar di balai desa itu. Tapi, karena Evan tidak menjadi starter lagi, dia membatalkan rencana tersebut. Lebih memilih menonton di rumah yang ditinggalinya bersama Evan, tak jauh dari lokasi nobar. Semangat Ana yang sempat muncul ketika Evan main perlahan hilang. Tiga gol tambahan dari Thailand menjadi alasannya. Dia juga langsung beranjak pulang karena tidak tega melihat Indonesia, terutama Evan, menelan kekalahan telak tersebut. "Kecewa saya. Tidak puas, ya kalah, ya Evan hanya main setengah saja," ungkapnya. https://radarbanyumas.co.id/asnawi-tulis-belum-usai-netizen-tetap-semangat-kapten/ Tapi, sama halnya dengan mayoritas masyarakat Indonesia lain, perempuan 43 tahun itu masih memendam harapan. Masih yakin Indonesia bisa menang dengan skor 5-0 di leg kedua pada 1 Januari mendatang. "Tetap semangat, di pertandingan kedua pasti bisa menang," ujarnya. Ana mengatakan, Evan sangat berharap bisa memberikan prestasi untuk Indonesia. Khususnya bisa memberikan gelar juara Piala AFF. ’’Sebelum pertandingan tadi dia telepon, minta doa Indonesia bisa menang,’’ bebernya. Ana berharap di leg kedua nanti, Evan bisa bermain sejak awal pertandingan. Dia sangat yakin pria 26 tahun itu memberikan warna baru pada permainan timnas. "Biar nggak kalah seperti sekarang," paparnya.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: