Honda

Banyak BUMDes Kebumen Dinilai Masih Belum Optimal

Banyak BUMDes Kebumen Dinilai Masih Belum Optimal

SADAR : Pertemuan ke 3 SADAR X di Kantor Formasi Kebumen. (ISTIMEWA) KEBUMEN-Hingga kini masih banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan dalam perjalannya masih banyak tantangan dan belum on the track. Kenapa demikian, karena masih banyak yang sekedar mendirikan saja. Artinya secara administratif desa tersebut memang telah dan memiliki BUMDes. Namun apakah keberadaan BUMDes sudah mampu mengoptimalkan potensi desa atau belum. Selain iti apakah kebedaan BUMDes sudah mampu memberikan manfaat bagi kemakmuran masyarakat atau belum. Hal ini disampaikan oleh Dewan Presidium Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kebumen Yusuf Murtiono, disele-sela pelaksanaan Sekolah Desa dan Anggaran (SADAR) 10 pertemuan ke 3, Sabtu (12/4). Pihaknya menyampaikan Sekolah Desa dan Anggaran yang lebih dikenal dengan SADAR hari ini merupakan pertemuan ke 3. Materi yang disampaikan berkaitannya dengan nilai-nilai strategis revolusi mental hubungannya dengan kepemimpinan di desa. Selain itu bagaimana membangun kemandirian ekonomi desa berbasis BUMDes. “Kenapa penting, sebab SADAR sebagai pusat pengetahuan dan informasi. Disini banyak perwakilan desa berkumpul dalam satu forum. Mereka saling berinteraksi, saling berdikusi dan bertukar pendapat. Ini untuk saling memberikan pengalaman baik atau kendala-kenala yang dialami dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pengemhangan ekonomin memalui BUMDes,” tuturnya. Adapun kepemimpinan menjadi salah satu topik, karena etoskerja, integritas dan gotong-royong menjadi hal yang sangat penting bagi kepemimpinan desa maupun elit desa. Dalam SADAR ini khusus membahas kepemimpinan tekait revolusi desa. “Harapannya kedepannya tentu para Kepala Desa desa penyelenggara desa mempunyai keberpihakan kepada masyarakat. Ini sesuai dengan tujuan kemakmuran yang dimandatkan oleh Undang-undang Desa,” jelasnya. Yusuf menyampaikan salah satu fakior penting adalah kontek kepemimpinan di desa. Dengan meteri ini diharapkan penyelenggara desa tahu ciri-ciri dan praktik pemimpin yang baik. Selain itu terkait ekonomi. Hingga kini dari evaluasi dari Formasi pelaksanann Bumdes masih cukup banyak tantangan dan belum on the track. “Kenapa, sebab hanya sekedar mendirikan. Secara administratif punya BUMDes, namun apakah sudah mampu mengoptimalkan potensi desa atau tidak. Kalau memang mampu apakah sudah memberikan dampak manfaat bagi kemakmuran masyarakat. Ternyata dari evaluasi masih menjadi problem besar,” katanya. https://radarbanyumas.co.id/bumdes-serang-purbalingga-raup-pad-rp-5-miliar-per-tahun-bupati-minta-desa-tak-latah-ingatkan-potensi-masing-masing/ Dalam hal ini dari sisi pemerintah masih mengejar target. Tapi dalam perjalanannya semua terseok-seok. Melalui Formasi, diharapkan SADAR mampu membikin BUMDes yang baik. Sehingga rakyat merasa memiliki dan pemerintah mempunyai tanggungjawab untuk mengembangkan. Ini yang paling penting. “Praktik dilakukan oleh BUMDes yang difasilitasi oleh Formasi, semua bisa berkembang walaupun perjalannya lambat. Namun tidak masalah yang penting ada progres. Tidak tahu-tahu berapa BUMDes sudah tutup padahal baru didirikan. Ini merugikan rakyat. Sebab didirikan dari uang desa yang notabenenya adalah milik rakyat,” paparnya. Pihaknya menambahkan, sangat penting mengubah paradigma bahwa keberadaan BUMDes untuk mengoptimalkan potensi desa. Capaianya adalah kesejahteraan masyarakat. (mam)

Sumber: