Pemuda Panawaren Ekspedisi Petai Raksasa
EKSPEDISI: Pemuda Desa Panawaren melakukan ekspedisi untuk mencari petai raksasa, yang pernah ditemukan pada Maret 2020.
BANJARNEGARA - Para pemuda Desa Panawaren Kecamatan Sigaluh, melakukan ekpedisi untuk mencari petai raksasa, Kamis (18/11).
Ekspedisi dilakukan dengan menjelajahi hutan di Cagar Alam Pringamba 2 di Kecamatan Sigaluh.
Ketua Pemuda Desa Panawaren Kecamatan Sigaluh Agus Suwarto mengatakan, petai raksasa merupakan tanaman liar.
"Kalau ngga salah namanya Entada," paparnya.
Ekspedisi ini dilakukan untuk mencari petai raksasa yang pernah ditemukan secara tidak sengaja pada Maret 2020 lalu. Saat itu, dilakukan penghijauan sampai Cagar Alam Pringamba 2.
"Dulu pernah ditemukan buah yang mirip petai, paling panjang 180 centimeter. Kita sekarang mencoba mendatangi lagi pohon yang dulu. Ternyata kita temukan sudah kering dan buahnya ada yang bertunas," paparnya.
Di bawah pohon juga ditemukan pohon yang masih kecil dengan panjang hampir dua meter. Pohon berkembang biak melalui biji yang bertunas.
"Mungkin sisa yang ditemukan dahulu," ujarnya.
Tanaman ini merupakan tanaman langka dan jarang yang diketahui. Agus mengatakan, jumlah biji dalam satu petai paling banyak 18 biji.
Petai raksasa ini tidak direkomendasikan untuk dimakan.
"Belum pernah ada yang mengonsumsi, karena kita dulu diimbau oleh Dinas Kesehatan untuk jangan dulu mengonsumsi buah ini," ungkapnya.
Menurut dia, tanaman ini jarang sekali berbuah.
"Dari dua tahun lalu kita kesini, ternyata belum berbuah lagi. Berbuahnya bisa delapan tahun atau 10 tahun. Kemungkinan seperti itu," ungkapnya.
Dalam sekali berbuah, petai raksasa ini bisa mencapai sekitar 100 buah. Sedangkan panjang pohonnya menjalar sampai puluhan meter.
https://radarbanyumas.co.id/ratusan-ribu-bibit-tanaman-dibagikan/
"Pernah kita ukur dari pangkal sampai ujung atas, panjangnya sekitar 75 meter," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, sampai saat ini hanya ada satu tanaman petai raksasa di Cagar Alam Pringamba 2.
"Hanya satu. Kalau kita coba masuk ke dalam, setelah izin ke Perhutani kita belum menemukan," pungkasnya. (drn)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

