Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit

Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit

TENGAHWANAREJA - Banjir yang melanda Desa Sidamulya sejak Jumat (11/2) mulai membawa dampak bagi warga setempat. Mereka kini mulai terkena penyakit gatal kulit akibat terlalu sering bersentuhan dengan air.  Dari pantuan petugas Puskemas Wanareja II menyebutkan, tercatat ada 8 warga yang mengeluhkan gatal-gatal. Mereka langsung diberi pengobatan gratis oleh petugas setempat untuk menghindari penyebaran lebih luas. Dan mulai hari ini, petugas kesehatan bersama dinas terkait mulai mengaktifkan Pos Kesehatan di Pusat Kesehatan Desa (PKD) Sidamulya. "Mulai besok (hari ini-red) pos kesehatan akan diaktifkan karena mulai ada warga yang terserang penyakit," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Tri Kumara melalui Kepala UPT BPBD Majenang, Edi Sapto Prihono, Senin (15/2) kemarin. Dia menambahkan, pihaknya sudah menggelar rapat dan cek lokasi bersama jajaran terkait. Termasuk melibatkan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompincam) Wanareja. Salah satu keputusan rapat tersebut adalah membuka pos kesehatan di PKD setempat. "Tadi (kemarin siang-red) sudah rapat gabungan setelah melakukan cek lokasi," katanya. Rapat yang juga melibatkan petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy memastikan, banjir berasal dari luapan sungai Ciserang setelah diguyur hujan deras selama beberapa hari. Tim gabungan ini mendapati kalau klep atau pintu air di Serang. "Kerusakan ini kita mintakan ke BBWS untuk bisa diperbaiki. Mereka akan mengusahakan perbaikan secepatnya," katanya lagi. Camat Wanareja, Bintang Dwi Cahyono mengatakan, hasil pendataan memastikan tidak ada rumah yang terendam. Namun demikian, 4 dusun di Desa Sidamulya tergenang akibat luapan sungai tersebut. Wilayah itu meliputi Dusun Mekarsari, Mergosari, Mergodadi, dan Cibeureum dan terdapat 150 keluarga. Banjir juga menggenangi 250 ha sawah warga. "Semua dusun tergenang dan ada 150 hektar sawah terendam," katanya. Data dari BPBD menyebutkan, genangan air mulai dirasakan warga sejak Jumat sekitar pukul 16.00. Disusul kemudian luapan pada Sabtu (12/2) lalu hingga genangan air terus menyebar. Sejumlah jalan desa, pekarangan, halaman rumah dan sawah warga sampai berita ini diturunkan masih tergenang. Ketinggian air di areal persawahan mencapai 60 cm dan mengancam tanaman mati hingga gagal panen. (har/ttg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: