Pesan Syukur pada Samudra yang Menjanjikan Kebahagiaan

Pesan Syukur pada Samudra yang Menjanjikan Kebahagiaan

Nelayan Cilacap di Tengah Tradisi Sedekah Laut Memandang perahu nelayan yang pulang usai mengarungi ombak pesisir selatan menjadi pemandangan yang jamak di bibir pantai Teluk Penyu. Beberapa nelayan yang menurunkan box pendingin, tempat ikan Layur dan Bawal Putih disimpan pun sadar sekali atas tradisi rutin mereka setiap tahunnya yaitu, Sedekah Laut. ABDUL AZIZ RASJID, Cilacap Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pandanarang yang berlokasi di area pantai wilayah Kecamatan Cilacap Selatan tersebut, beberapa pembeli telah menunggu hasil tangkapan para nelayan. "Alhamdulilah, target tahun 2015 Rp 6 Miliar terlampaui. Sampai tutup buku Desember masuk Rp 7,2 Miliar," kata Tarmuji, Ketua TPI sekaligus ketua kelompok nelayan Pandanarang kepada Radar Banyumas. Setiap hari, seperti kisah Tarmuji,  lama perjalanan yang dilakukan nelayan Pandanarang ke tengah laut memakan waktu tiga jam. Nelayan berangkat saat langit masih pekat, pukul dua dini hari; lalu mulai menebar jaring, pada pukul lima subuh. Bila di lokasi penjaringan sudah didapatkan ikan, nelayan akan menebar jaring kembali saban satu jam. Sebaliknya, jika tak didapat ikan di lokasi tersebut, maka nelayan akan berpindah ke lokasi-lokasi lain. Membayangkan lautan terbentang dan nelayan menyongsong siang jauh dari sanak keluarga, teringat sajak Abdul Hadi WM berjudul "Prelude" ini: Siapakah bertolak bersama pelaut-pelaut itu? Angin senja dari benua. Sesekali suara sauh. Siapakah yang berseru bersama pelaut-pelaut itu? Langit yang biru... Pada puluhan tahun silam, Tarmuji masih ingat pertama kali melaut di usia delapan tahun. Di usia sebelia itu, demi melaut ia harus rela putus sekolah. Laut dimatanya adalah tumpuan keberlangsungan hidup. Begitu pula bagi 1.300 nelayan di lingkungannya. "Wajar jika tiap tahun nelayan mengutarakan syukur dengan tradisi sedekah laut," katanya. Membaca profil wisata yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Cilacap, sejarah tradisi sedekah laut tidak lepas dari kelompok nelayan Pandanarang. Tradisi ini bermula dari perintah Bupati Cilacap ke-3, Tumenggung Tjakrawerdaya III yang meminta kepada sesepuh nelayan Pandanarang, Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji ke laut selatan. Pada Jum'at Kliwon bulan Syura tahun 1875, sedekah laut dilakukan dengan menyertakan kelompok nelayan lain, seperti Sidakaya, Donan, Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong, dan Kemiren. Baru pada Tahun 1983, sedekah laut diangkat sebagai atraksi wisata. Asisten 3 Setda Cilacap sekaligus Ketua Dewan Kesenian Cilacap (DKC), Imam Yudianto, menuturkan dimungkinkan sedekah laut sudah dilakukan sejak zaman mataram dimana wilayah Cilacap dibawah ngabehi (wedana) Surakarta. Hal ini masuk akal, dari ranah mitologi semisal, sedekah laut juga dianggap oleh beberapa warga Cilacap berhubungan dengan Nyi Roro Kidul. Dalam mistik Jawa, Roro Kidul dipandang sebagai dewi penguasa laut selatan, pelindung rohani, pemberi kesuburan dan pasangan roh halus halus raja-raja keraton Jawa Tengah yakni Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram II (Frans Magnis Suseno, Etika Jawa, hlm. 107-108). “Alasan utama sedekah laut dilakukan sebagai atraksi wisata untuk nguri-nguri kebudayaan. Memperlihatkan bahwa laut adalah personifikasi transenden bagi nelayan Cilacap. Harapan besarnya, sedekah laut bisa menjadi brand image wisata untuk mengangkat karakteristik kehidupan masyarakat pesisir Cilacap,” kata Imam yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Disparbud Cilacap. Sudah berjalan 32 tahun, tradisi sedekah laut terus menjadi bagian program tahunan Pemkab Cilacap. Tahun 2015 lalu, Disparbud Kabupaten Cilacap menggelontorkan anggaran sekitar Rp 180 juta dari APBD untuk gelaran sedekah laut. Anggaran tersebut diplotkan untuk larung sesaji, tirakatan malam, arak-arakan dan kunjungan ke kelompok-kelompok rukun nelayan di Cilacap. Pelaksanaannya juga serupa tiap tahun, sembilan kelompok rukun nelayan mengusung sembilan jolen atau rumah-rumahan sesaji berisi kepala kerbau, kepala sapi, kepala kambing serta hasil bumi untuk dilarung setelah berjalan sekitar tiga kilometer dari pendopo Wijayakusumacakti. “Pemkab sebagai fasilitator saja. Ketika sudah menjadi bagian hidup masyarakat, tidak bisa birokrasi unsich. Tapi, Pemkab bisa mendukung dengan memperluas cakupan untuk semakin menarik wisatawan, misalnya mengadakan festival pesisir atau festival Nusakambangan yang mengenalkan karakteristik Cilacap baik kuliner, batik, permainan-permainan tradisonal, pemeran seni yang acara puncaknya sedekah laut,” harapnya. Kepala Disparbud Kabupaten Cilacap, Murniyah, memiliki bayangan serupa. Dengan konsepsi tersebut, masyarakat pesisir Cilacap akan menjadi pelaku utama dalam mendongkrak perkembangan wisata. “Ketika berbicara pariwisata di pesisir Cilacap. Pelaku pariwisata haruslah masyarakat pesisir Cilacap,” ujarnya yang baru menjabat sejak Januari 2016 ini. Sudah lebih dari pukul 15.00 sore. Tarmuji duduk sendiri di sudut ruang tamu kantor TPI Pandanarang. Matanya menatap jendela menerawang jauh ke tengah laut. Di TPI sore itu sudah tak ada aktivitas. “Saya selalu rindu untuk melaut lagi. Perjalanan ke laut selalu menjanjikan kebahagiaan. Tapi teman-teman selalu melarang, mereka meminta saya mengurusi TPI ataupun koperasi,” katanya lirih. Tanpa cinta kepada nelayan dan menyadari laut sebagai sumber kehidupan, tentu Tarmuji tak akan meredam rindunya bertahun-tahun untuk kembali melaut. Sebab ia tahu, serupa niat baik mendongkrak perkembangan wisata pesisir Cilacap,  harus ada pelaku aktif yang terlibat terus menerus meningkatkan produktivitas nelayan. Tarmuji dan ribuan nelayan di Cilacap, adalah sosok-sosok tak terbantahkan yang tak pernah memunggungi laut. Pemerintah pun berkomitmen tak memunggungi laut. Bila laut diakui sedemikian penting, sudah semestinya mengungkapkan syukur pada laut. (*/ttg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: