Banner v.2

Kadipaten Mesir Pernah Eksis di Purbalingga

Kadipaten Mesir Pernah Eksis di Purbalingga

SEJARAH: Diskusi keberadaan Kadipaten Mesir di Purbalingga. (ADITYA/RADARMAS) PURBALINGGA - Kabupaten Purbalingga ternyata menyimpan sejumlah sejarah, yang tak banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah berdirinya Kadipaten Mesir di Desa Onje, Kecamatan Mrebet. Hal itu, diungkap dalam diskusi sejarah, Menguak Tabir Misteri Kadipaten Mesir Purbalingga bertempat di Kedai Pojok, Minggu (5/6) malam. “Tak banyak yang tahu kalau di Purbalingga pernah eksis sebuah wilayah bernama Kadipaten Mesir. Ada arsip peta yang tersimpan di National Arsip Belanda membuka selapis tabir misteri kadipaten itu,” ujar Gunanto Eko Saputro, penulis sejarah Purbalingga. Dia menjelaskan, peta itu adalah Plattegrond in Vogelvlucht van de Vesting Missier atau Peta Benteng Mesir Tampak dari Atas dengan tarikh 16 Desember 1681. Peta itu menceritakan spesifikasi Benteng Mesir dan peristiwa penyerangan oleh gabungan Tentara VOC dan Mataram dengan pimpinan bernama Komandan Couper dan Tumenggung Soewanata. Sementara, orang nomor satu di Mesir dipanggil dengan sebutan Raja Namrod. Benteng Mesir mempunyai pagar luar yang disebut Pager Banowatty sepanjang 1021 roeden dengan gerbangnya sepanjang 189 roeden. Kedua ada Madjapahit tinggi 13 kaki. Benteng Mesir digambarkan sangat kuat dengan komponen utama balok kayu besar, di dalamnya ada pemukiman, kandang kuda dan gudang perbekalan. Pemukiman utama berada di sebelah timur Sungai Klawing yang untuk mencapainya dari Bannowatty harus melewati jembatan kayu selebar 18 roeden. “Saya telusuri nama-nama tempat yang ada di dalam peta. Missier atau Mesir, sekarang menjadi nama pedukuhan di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Banowatty atau Banowati juga. Majapahit, kini juga nama pedukuhan di Desa Karangturi, dekat Onje. Selinga atau Slinga merupakan yang masuk Kecamatan Kaligondang dan Tambakbaya nama padukuhan di Desa Patemon, juga sekitar Onje,” imbuhnya. Dia menjelaskan, Kadipaten Mesir didirikan oleh cucu dari Adipati Onje II (Hanyakrapati) yang bernama Nur Alim. Dia merupakan anak dari Rara Surtikanti dengan Adipati Tegal. Nur Alim memberikan nama Mesir karena dididik secara Islam dan banyak mendengar cerita-cerita negeri-negeri yang berada di Al Quran. Mesir kemudian berkembang menjadi wilayah yang cukup disegani. Sebagai penguasa keturunan Pajang, Nur Alim enggan tunduk terhadap Mataram dan menolak untuk menghadap ke Susuhunan Amangkurat II selaku penguasa tertinggi di Tanah Jawa saat itu. Oleh karenanya, Ia dianggap penguasa yang sombong dan diberi julukan jelek, Namrud. https://radarbanyumas.co.id/wayang-suket-purbalingga-jadi-warisan-budaya-nasional-masih-sering-dimainkan-di-desa-langgar-kecamatan-kejobong/ Sehingga, Mesir pun digempur pasukan gabungan VOC – Mataram dan berhasil dikalahkan. Mesir dibumihanguskan yang ditandai dengan keterangan di Peta yang menyebutkan tempat di mana Namrud dibunuh dan kemudian dibakar berserta rumah dan bentengnya. Hal itu menurutnya, menjadi salah satu kemungkinan Mesir kemudian seolah hilang dari peradaban. Acara tersebut juga menghadirkan Indaru Setyo Nurprojo (Dosen Ilmu Politik Unsoed) dan Agus Sukoco (Budayawan) dengan moderator Muhammad Kholik (Founder Griya Petualang Indonesia). Serta, sekitar 50 orang pemerhati sejarah Purbalingga mengikuti acara tersebut. (tya)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: