Banner v.2

Dulu Banyak Pesanan, Kini Minim Orderan

Dulu Banyak Pesanan, Kini Minim Orderan

LESU: Perajin mencetak bata merah meski kesulitan menjalankan usaha. FIJRI/RADARMAS TAMBAK - Perajin bata merah merasakan kesulitan dalam menjalani usaha. Menyusul pandemi corona virus yang tak kunjung berakhir. Adi, perajin bata merah di Desa Pesantren Kecamatan Tambak menceritakan permintaan turun hingga 75 persen sejak adanya wabah. Tidak hanya pesanan dari toko material, juga permintaan dari perumahan. https://radarbanyumas.co.id/harga-cabai-turun-drastis-di-purbalingga/ https://radarbanyumas.co.id/kembali-ramai-pedagang-jualan-sampai-sore-lagi/ "Sebelum ada corona, sampai kewalahan memenuhi permintaan bata merah. Orang yang pesan menunggu antrian," ujar Adi, Selasa (24/8). Kondisi diperparah oleh hasil usaha bata merah sudah tidak cukup untuk dialokasikan ke upah karyawan. Mulanya, Adi dalam memproduksi bata merah dibantu oleh empat orang. Kini tinggal seorang diri. Disebut Adi, perajin bata merah harus pandai memutar modal. Agar di masa wabah corona virus ini tetap bisa bertahan dalam keprihatinan. "Tempat produksi bata merah ini sewa. Bukan milik saya pribadi. Jadi, bagaimana modal bisa terus berputar," imbuh Adi. Keberadaan bata merah tidak kehilangan popularitasnya sebagai material untuk pembuatan dinding bangunan. Meski banyak alternatif seperti hebel atau bata ringan. Atas dasar tersebut, perajin bata merah tidak berhenti dalam berusaha. Walau terdampak corona virus. (fij)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: