Tim Khusus Investigasi Patung Jenderal Soedirman

Tim Khusus Investigasi Patung Jenderal Soedirman

    PURBALINGGA- Kasus robohnya Patung Jendral Soedirman di simpang empat Terminal Purbalingga, yang jadi trending topic- rupanya, membuta Pemerintah Kabupaten  Purbalingga bertindak khusus. Kemarin (4/1), Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Purbalingga Kodadiyanto SH MH langsung menggelar rapat khusus  membahas kejadian tersebut. Hasilnya, Pemkab Purbalingga membentuk tim khusus untuk mengivestigasi kasus robohnya patung jendral besar, yang lahir di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang ini.  Patung tersebut yang merupakan salah satu ikon Kabupaten Purbalingga menjadi salah satu pertimbangannya. Kabag Humas Setda Purbalingga Rusmo Purnomo mengatakan, tim khusus tersebut bakal diisi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. "Tim terdiri dari unsur teknis dan non teknis. Teknis terkait dengan unsur-unsur material bagunan. Sedangkan non teknis terkait dengan unsur seni dan administrasi lainnya," katanya. Dia menambahkan, nantinya hasil kajian akan digunakan untuk membuat kaputusan. "Dari hasil rapat, disepakati patung Jendral Soedirman akan dibangun ulang secepatnya. Karena, berdasarkan masukan masyarakat yang ada patung harus secepatnya dibangun ulang. Apalagi patung tersebut merupakan ikon dari Kabupaten Purbalingga," ujarnya. Meski demikian, usulan tersebut perlu dikaji terlebih dahulu. Selain utu, untuk membangun ulang harus melalui prosedur yang panjang dan membutuhkan waktu. "Saat ini, sudah masuk ke tahun anggaran 2016. Sehingga, untuk dibangung ulang harus disusun lagi DED (detail engineering design)-nya dan perencaanaan anggarannya," imbuhnya. Perencanan DED akan dilaksanakan pada APBD-Perubahan 2016. Sedangkan untuk pembangunan ulang patung ditargetkan pada 2017. Terkait pembangunan ulang juga masih akan dikaji apakah akan dibangun ulang dengan bahan yang sama atau dengan bahan yang lebih baik lagi, seperti perunggu. "Masukan dari masyarakat patung harus dibangun ulang dengan bahan yang lebih baik lagi. Termasuk apakah bentuknya sama atau diubah. Semuanya masih akan dibahas, setelah tim selesai bertugas," lanjutnya. Rusmo menceritakan pembangunan patung diresmikan pada 31 Desember 2004 dengan biaya pembangunan sebesar Rp 270 juta, terbuat dari bahan fiber dan kerangka besi. Sementara jika dibuat dengan bahan perunggu dan desain yang sama maka anggarannya bisa mencapai  Rp 3,5 miliar. "Robohnya kemungkinan karena pelapukan pada bahan fibernya, walaupaun telah dilakukan perawatan berupa pengecetan setiap tahunnya,” ujarnya. Dengan pengalaman robohnya patung jenderal Soedirman, lanjut Rusmo Pemkab juga akan melakukan pemeriksaan pada 3 patung dengan bahan yang sama. Seperti patung Knalpot di pertigaan jalan AW Soemarmo, Patung dr Goeteng Taroenadibrata di Kompleks RSUD Purbalingga, serta patung atlet lempar cakram di kompeks Stadion Goentoer Darjono. "Dengan pemeriksaan dan cegah dini kita berharap robohnya patung Jenderal Sudirman tidak terulang lagi, kepada patung dengan bahan yang sama," ujarnya. Sementara itu, saat koran ini sedang mewawancarai Rusmo, mantan Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko, menghubungi langsung Rusmo. Dia ingin mengetahui sejauh mana penanganan patung yang dibangun saat dirinya masih memimpin Purbalingga tersebut. Berdasarkan pengamatan Radarmas di lapangan, terlihat petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Purbalingga memberesi sisa puing-puing patung yang masih tersisa. Petugas tersebut juga mencopot identitas patung yang sebelumnya menempel di landasan patung. Di bagian lain, faktor cuaca diduga menjadi memiliki andil besar dalam mempengaruhi kondisi fisik patung Jenderal Soedirman. Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Sains Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto kampus Blater, Kalimanah, Purbalingga, Agus Maryoto mengatakan, bahan utama pembuat patung tersebut berupa fiber dan rentan rapuh karena pengaruh cuaca. "Kalau ada angin besar maupun hujan jelas sudah bisa menjadi salah satu faktor. Namun saat kejadian kanbarnya tidak ada gangguan alam seperti hujan dan angin besar. Jadi kemungkinan besar adalah karena lapuk akibat cuaca. Patung itu kan terbuat dari fiber yang kena hujan dan panas setiap hari. Mesi tergantung kualitas bahan atau fiber itu,” tutur pemilik gelar Doktor luar negeri ini, Senin (4/1). Selain cuaca, kemungkinan ada sejumlah faktor lain yang bisa berpengaruh. Misalnya kualitas material fiber yang dipakai, ketidaksesuaian dengan spek atau malah ada orang yang iseng merusak. "Semua butuh kajian dan uji maupun penelitian. Jika ada yang menilai karena getaran kendaraan berat yang melintas di jalan sekitar patung, saya rasa tidak terlalu berpengaruh apabila material secara kualitas tidak ada penurunan," rincinya. (tya/amr)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: