Banner Honda

Empat Watak Pendidik di Era Perubahan

Empat Watak Pendidik di Era Perubahan

Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd.--

Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

RADARBANYUMAS.CO.ID - Ada satu angka dari PISA 2025 yang jarang masuk berita. Delapan dari sepuluh siswa Indonesia usia 15 tahun mengaku ingin tahu tentang banyak hal. Hampir tiga perempatnya akan berusaha lebih keras kalau tugasnya makin sulit, dan 82% merasa gurunya peduli pada belajar setiap murid (OECD, 2026). Anak-anak kita, rupanya, mau belajar.

Yang masuk berita tentu angka satunya lagi. Hanya 17% siswa mencapai kecakapan minimum matematika, 27% dalam membaca, dan 37% dalam sains, sementara rata-rata negara OECD berkisar 65 sampai 74%. Jadi kita punya anak-anak yang rajin, guru yang dinilai sabar, kelas yang relatif tertib, dan hasil belajar yang tetap rendah. Bagaimana mungkin?

Saya menduga jawabannya ada pada hal yang sering terlewat: Kelas kita nyaman, namun belum menantang. Sebuah meta-analisis atas 99 studi menemukan bahwa hubungan baik antara guru dan murid memang membuat anak betah dan mau terlibat, tetapi kaitannya dengan capaian jauh lebih lemah (Roorda dkk., 2011). Penelitian di sekolah-sekolah Chicago melengkapi gambarnya. Murid belajar paling banyak ketika dukungan yang kuat berjalan bersama tuntutan akademik yang kuat (Lee dkk., 1999). Salah satunya saja tidak cukup.

Di sinilah kata humanis perlu diluruskan. Humanis bukan berarti lunak. Ki Hadjar Dewantara bicara tentang menuntun kodrat anak, dan menuntun itu berbeda dari menyuapi. PISA sendiri memberi contoh tuntutan yang dimaksud. Siswa Level 2 matematika mampu mengenali sendiri bagaimana sebuah situasi sederhana bisa dinyatakan secara matematis, tanpa diberi petunjuk langkah demi langkah. Sebagian besar murid kita belum terbiasa dengan soal semacam itu. Guru yang humanis berani menyodorkan soal yang belum ada contohnya, lalu sabar menunggu murid bergulat dengannya. Ia percaya anak itu sanggup. Kepercayaan semacam itu, kalau dipikir-pikir, adalah bentuk hormat yang paling tinggi.

Lalu ada soal keyakinan. Dari semua indikator sikap, hanya satu yang tertinggal jauh, yaitu growth mindset. Cuma 30% siswa Indonesia percaya kecerdasan bisa dikembangkan, padahal rata-rata OECD 69%. Tujuh dari sepuluh anak yang rajin tadi diam-diam yakin kemampuannya sudah jadi sejak lahir. Mereka berusaha, tetapi barangkali lebih karena patuh, dan usaha seperti itu gampang patah begitu si anak memutuskan dirinya “memang tidak berbakat”. Guru yang inspiratif bekerja persis di titik ini. Caranya bukan pidato motivasi. Caranya kalimat sehari-hari: memuji usaha dan cara, bukan bakat, lalu menunjukkan kepada anak bukti bahwa hari ini ia lebih bisa daripada bulan lalu.

Keyakinan tentu tidak menolong kalau pelajarannya tidak terjangkau. Coba bayangkan. Kalau 83% siswa belum sampai Level 2 matematika, mengajar persis mengikuti buku paket kelas 9 berarti mengajar segelintir anak di barisan depan. Guru yang adaptif memulai dari tempat anak berada. Ia memeriksa dulu apa yang sudah dikuasai, mengelompokkan murid menurut kebutuhannya, dan tidak sungkan kembali ke pecahan kalau memang di situ macetnya (Banerjee dkk., 2017).

Adaptif juga berarti paham zamannya. Lebih dari separuh siswa kita memakai chatbot AI tiap minggu, banyak di antaranya untuk merangkum bacaan dan menulis draf. Itu justru dua latihan yang paling mereka butuhkan. Melarang saja tidak menyelesaikan masalah. Yang lebih masuk akal adalah merancang tugas yang proses berpikirnya kelihatan: menulis di kelas, menjelaskan jawaban secara lisan, membandingkan rangkuman mesin dengan teks aslinya. Soal gawai, datanya malah lebih terang. Siswa di sekolah yang melarang ponsel jauh lebih jarang mengeluh terganggu, dan mereka yang terganggu meraih skor sains 11 poin lebih rendah.

Semua itu percuma kalau anak tidak merasa aman. Hampir satu dari empat siswa mengaku dirundung beberapa kali sebulan, dan angkanya naik sejak 2022. Di rumah, anak yang rutin ditanya orang tuanya tentang sekolah turun dari 57% menjadi 48% hanya dalam tiga tahun. Berpihak pada anak berarti guru menjadi orang dewasa yang bisa didatangi, sekaligus orang yang lebih dulu mengetuk pintu keluarga. Kabar singkat tentang kemajuan anak, dikirim rutin, sering lebih berguna daripada rapat besar setahun sekali.

Sampai di sini ceritanya masih tentang sekolah. Padahal sebagian akar persoalan tumbuh jauh lebih awal. PISA memang tidak mengukur PAUD, tetapi riset perkembangan anak memberi petunjuk yang sulit diabaikan. Kecakapan matematika saat anak masuk sekolah ternyata menjadi prediktor terkuat capaian akademiknya bertahun-tahun kemudian (Duncan dkk., 2007). Keyakinan pun punya riwayat. Anak yang pada usia satu sampai tiga tahun lebih sering dipuji atas usahanya, lima tahun kemudian lebih menyukai tantangan dan lebih percaya bahwa kemampuan bisa tumbuh (Gunderson dkk., 2013). Angka 30% tadi tidak lahir di SMP.

Bukti lainnnya menambahkan satu catatan. Ketika kelompok bermain diperluas di perdesaan Indonesia, angka partisipasi naik, tetapi dampak rata-ratanya pada perkembangan anak kecil (Brinkman dkk., 2017). Membuka pintu PAUD saja rupanya belum cukup. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan pendidik bersama anak di balik pintu itu.

Empat watak itu berlaku juga di ruang bermain, hanya rupanya berbeda. Humanis di PAUD berarti bermain terbimbing: guru menyiapkan balok dan pasir, lalu masuk dengan pertanyaan pada saat yang pas. “Menaramu roboh terus di sebelah sini, kira-kira kenapa?” Inspiratif berarti berkata “kamu mencoba tiga cara sampai menaranya berdiri”, bukan “kamu memang pintar”. Adaptif berarti mengikuti tahap perkembangan anak, bukan menarik target kelas 1 SD ke bawah. Berhitung tetap penting, tetapi ia tumbuh dari membilang anak tangga dan membagi kue sama rata, bukan dari menyalin angka di buku bergaris. Berpihak pada anak berarti menolak tes calistung, membatasi layar, dan meluangkan lima menit di gerbang untuk mengobrol dengan orang tua saat antar-jemput. Kebijakan transisi PAUD ke SD sebetulnya sudah menghapus tes calistung dari penerimaan murid baru (Kemendikbudristek, 2023), tetapi kecemasan orang tua tidak ikut terhapus. Di situlah guru PAUD perlu bicara.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: