Banner v.2

Penerapan CERC Model Dalam Krisis Komunikasi

Penerapan CERC Model Dalam Krisis Komunikasi

Pundra Rengga Andhita, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Masih ingat peristiwa penolakan jenazah covid 19 di Kabupaten Banyumas? Menurut informasi, sudah ada 7 orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Peran yang mereka lakukan adalah menghalangi proses pemakaman dan memprovokasi masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, praktik penolakanterhadap orang sakit sudahlama ada di masyarakat. Praktik inimudah ditemui dalam tipologi penyakit menular yang tidak hanya dialami oleh pasien hidup tetapi juga meninggal. Inilah salah satu polemik yang muncul dalam pandemi covid 19. Ada penolakan masyarakat terhadappemakaman jenazah positif covid 19.Persoalan ini terjadi di beberapa daerah,salah satunyaKabupaten Banyumas.Peristiwa tersebut sempat menarik perhatian masyarakat luas.Banyumas menjadi sorotan nasional. Tidak sedikit tokoh pemerintah dan organisasi masyarakat akhirnya ikut memberikan tanggapan. Rencana pemakaman jenazah positif covid 19 di Banyumasmemang dramatis. Konon, penolakan terjadi di empat kecamatan. Bahkansalah satu lokasi penolakanberasal dari warga yang tinggal satu daerah dengan jenazah.Penolakan juga terjadiketika jenazah sudah dimakamkan yang akhirnya dibongkar. Pembongkaran dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas, Achmad Husein.Di kesempatan terpisah, mobil ambulans yang sedang membawajenazah juga dihadang massa. Mereka menghalangi jalan, menyoraki dan meminta ambulans memutar balik. Dalam rekaman video yang beredarnampak Huseinturun langsung mencoba meyakinkan massa bahwa pemakaman sesuai prosedur dan tidak membahayakan masyarakat. Namun massa tidak begitu saja menerima, komunikasi berlangsung dalam tensi tinggi. Ada nuansa kemarahan dari massa yang membuat suasanasemakin tegang.Massa berpendapat, proses pemakamanan berlangsung tanpa ada musyawarahdengan warga setempat.Menyikapi hal itu Husein berusaha tetap tenang, menunjukkan kemauan untuk mendengarkan masyarakat. Apa yang dilakukan Husein ini tepat. Persis seperti yang diungkapkan Lloyd dan Bor (1996),ketika menghadapi kemarahan atau agresifitas berlebihan maka kita harus mampu menunjukkan kemauan unuk berbicara dan mendengarkan masyarakat, tidak terbawa emosi, menjaga jarak aman dan mempertahankan kontrol terhadap situasi. Dalam wawancara yang ditayangkan salah satusitus berita, Kompas.com (3/4), Husein mengungkapkan permintaan maafnya kepada masyarakat atas peristiwa tersebut. Ia juga mengatakan, penolakan disebabkan karena kurangnya sosialisasi dan upaya edukasi kepada masyarakat. Dalam beberapa kasus,tidak efektifnya manajemen komunikasi di masa krisissering kali menjadi penyebab awalmasalah. Komunikasi yang tidak berjalan baik jika dibiarkan berpotensi memberikan dampak destruktif. Apalagi jika menyangkutancaman kesehatan yang memengaruhi keamanan diri. Ancaman itu bisa memotivasi orang untuk mengambil tindakan spekulatif demi melindungi diri dan keluarganya. Crisis and Emergency Risk CommunicationModel (CERC Model) Ada tiga tahapan komunikasi yang perlu diperhatikan dalam krisis, yakni, sebelum kejadian, ketika kejadian dan setelah kejadian (Banks, 2011). Penolakan pemakaman jenazah covid 19 di Banyumas disebabkan karena kurangnya komunikasi di masa sebelum kejadian. Ini yang sekiranya bisa menjadi evaluasi bersama. Selain itu,kita juga mungkin perlu mempelajari strategi komunikasiyang dilakukanCenters for Disease Control and Prevention (CDC), Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat dalam menghadapi seranganantraks di tahun 2001.Serangan antraks kala itu berbeda dengan peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat,sepanjang tahun 1915 hingga 1924. Konon, penyebaran antraks di tahun 2001 merupakan serangan teror dari sejumlah pihak, meski sulit dibuktikan. Namunkabarnya sudah menyebar di masyarakat. Jika dibiarkan eskalasi kecemasan masyarakatakan menguat, potensi krisis melebar ke sektor lain. Kondisi itulah yang mendorongCDC melakukan strategi komunikasi integratif denganCrisis and Emergency Risk Communication-model (CERC model). Sebuah model yang menggabungkan konseprisk dan crisis communicationsebagai satu keterkaitan dalam mengatasikrisis di bidang kesehatan.Aspekyang diperhatikan dalam model ini adalah membangun pemahaman krisis secara holistik. Pemahaman itu menyangkut bagaimana komunikasi integratif dapat dilakukan untukmengantisipasi ancaman lebih dini. Ancaman di sini adalah potensi meluasnya krisis kesehatan ke arah multi dimensi masyarakat. CERC model memiliki strategi komunikasi integratif yang memperhatikan beberapa tahapan. CERC modeldescribes five general stages of a crisis: pre-crisis, initial event, maintenance, resolution and evaluation (Seeger, Reynolds & Sellnow, 2009). Dalam pelaksanaannya, penerapan CERC model yang dilakukan CDC selama serangan antraks mampu menimalisir risiko lainnya.“The CERC model developed by the CDC significantly improves the likelihood that many of these communication activities will help contain and limit the harm” (Seeger, Reynolds & Sellnow, 2009). Di tahun berikutnya, penerapan CERD model mulai disosialisasikan lebih luas. Lebih dari 100 ribu tenaga kesehatan diberikan pelatihan CERC model secara intensif.Model ini juga digunakanCDC ketika menghadapi krisis yang disebabkan oleh badai topan Katrina pada tahun 2005 dan 2007 di Amerika Serikat. CERC model sebaiknya tidak dilakukan dalam skala lokal, tetapi juga nasional. Hal ini diperlukan karena covid 19 bukanlah pandemi lokal melainkan global. Pertimbangan lainnya karenapenolakan jenazah positif covid 19 tidak hanya terjadi di satu daerah saja, Banyumas.Kejadian serupa terjadidi Binjai,Cianjur, Gowa, Kapuas, Mimika, Pasuruan, Padang, Semarang, dan lainnya.Banyaknya kasus penolakan menandakan ada krisis komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat. Inilah alasan penerapan CERC model harus terintegrasi dari atas ke bawah. Selain itu, penerapan CERC model sebaiknya jugaberbarengandengan jalinan kemitraan masyarakat melalui kelompok, lembaga,organisasi dan opinion leader. Inilah garda terdepan dalammemengaruhi pendapat dan mengubah persepsi preventif yang berlebihan padamasyarakat terhadappasien covid 19.Tentu saja pesan yang disampaikan tidak hanya dalam ranah kesehatan, perlu variasilain. Khususnya, pesan spiritual berbasis keagamaan. Dalam kondisi seperti sekarang pesan spiritual akan menjadi rambu-rambu efektif bagi masyarakat. Pendekatan Perubahan Perilaku Kelompok, lembaga, organisasi masyarakat dan opinion leadermerupakan elemen yang mudah masuk ke sektor akar rumput.Mereka lebih tekun dalam membangun adaptasi sosial dan psikologis yang relevan dengan karakteristik lokal. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalahthe behavioral change. Ini merupakan pendekatan yang ditujukan untuk mengubah perilaku individu melalui kognisi.Pendekatan ini meyakini bahwa orang adalah pengambil keputusan rasional dan perilaku kesehatannya dipengaruhi oleh kognisi. Singkatnya, untuk mendapatkan perubahan perilaku maka harus terlebih dulu memenuhi kebutuhan kognisi. Hal yang perlu dipahami adalahpenolakanpemakaman jenazah positif covid 19 terjadi karena tidak bulatnya informasi yang dimiliki masyarakat.Ada anggapan bahwa meskipun jenazah sudah dikuburkan dalam tanah, penyebaran covid 19 masih dapat terjadi. Apalagi jika di sekitarnya ada pemukiman atau peternakan yang mengandalkan sumur, resapan air tanah untuk mandi dan minum. Anggapan itu menandakan adanya informasi yang terbatas mengenai risiko,non risiko dan alternatif tindakan yang sesuai dalam menghadapi positif covid 19. Kebutuhan kognisi yang tidak utuh cenderung membuat masyarakat bertindak spekulatif. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah pendampingan bagi positif covid 19 ataupun keluarganya. Jika selama ini pendampingan lebih fokus pada sosio-ekonomi, maka perlu kiranya sosio-psikis juga menjadi perhatian. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah the self empowerment approach. Sebuah pendekatan yang memberdayakan orang untuk membuat pilihan sehat bagi dirinya. Mereka bisa membuat pilihan, keputusan dan mengontrol lingkungan sosialnya.Kemampuan itu yang membuat psikis mereka tidak terbebani dengan sikap lingkungan terhadapnya.Ketika ada diskriminasi mereka menjadi lebih kebal, fisik maupun mentalnya. Akhir kata, pandemi covid 19 masih berlangsung hingga kini. Kecemasan masyarakat mungkin akan berhenti ketika obat atau vaksinnya telah ditemukan. Sebelum terjadi, potensi konflik lain akibat covid 19 masih bisa bermunculan. Inilah yang harus disikapi dengan cermat, cepat dan tepat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: