Banner v.2

Warga Terdampak SPPG Rejasari Minta Sumurnya Diuji

Warga Terdampak SPPG Rejasari Minta Sumurnya Diuji

Dalam pertemuan sebagai tindaklanjut dari pemantauan sumur atas dugaan pencemaran air dari SPPG Rejasari di RT 2 RW II pada Kamis (2/10) antara warga terdampak, pengelola dapur dan Forkompincam Purwokerto Barat, warga terdampak meminta sumurnya juga diuji-YUDHA IMAN/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Dalam pertemuan sebagai tindaklanjut dari pemantauan sumur atas dugaan pencemaran air dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rejasari di RT 2 RW II pada Kamis (2/10), warga terdampak meminta agar dilakukan pengujian laboratorium terhadap sumurnya.

Warga terdampak, Nurul mengatakan jika diijinkan sumur warga yang terdampak dugaan pencemaran air dari SPPG Rejasari diuji laboratorium agar warga tahu air di sumur warga masih layak atau tidak.

"Sumur kami kan belum diuji laboratoriun jadi kami belum bisa memakai air di sumur," katanya.

Lurah Rejasari, Ning Anggoro menjelaskan terkait dugaan pencemaran SPPG Rejasari di RT 2 RW II terhadap sumur warga terdampak pihaknya melangkah ke lokasi bulan lalu. Yang dilihatnya saat itu air sumur warga berwarna agak hitam dan berminyak. Meski ramai sejak bulan Agustus, laporan dugaan pencemaran tersebut masuk kepadanya di pertengahan bulan September.

BACA JUGA:Air Sumur Warga Mersi Tercemar Diduga Akibat Limbah Dapur MBG

"Sekitar tanggal 17 bulan lalu diambil sampel dari air sumur SPPG Rejasari. Hasilnya sudah disampaikan Dinas Kesehatan," katanya ditemui Radarmas, Kamis (2/10).

Dilanjutkannya jumlah sumur warga yang terdampak dugaan pencemaran SPPG Rejasari di RT 2 RW II sekitar empat sumur disebelah dapur persis, didekat dapur dan jalan yang ke arah barat dua sumur. Terkait pengambilan sampel oleh puskesmas yang hanya dilakukan ke air sumur milik SPPG Rejasari, informasinya yang membiayai uji lab dari dapur dengan harga satu kali pengujian Rp 2 juta.

"Jika air sumur warga terdampak diuji lab apakah SPPG Rejasari bersedia membiayai. Kalau empat sumur sudah Rp 8 juta. Akhirnya pada buang-buangan," terang dia.

Adapun warga yang sumurnya terdampak dan rumahnya berjejeran persis dengan SPPG Rejasari sepengetahuannya sudah mencoba menaruh ikan di sumur dan ikannya mati.

BACA JUGA:Ahmad Luthfi Dorong Percepatan Optimalisasi Sumur Minyak Masyarakat

"Sehingga akhirnya sampai sekarang yang bersangkutan belum berani menggunakan air sumurnya," pungkasnya.

Pelaksana Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Banyumas,  Resi Aneka Saputra mengatakan hasil uji lab terhadap air dari sumur SPPG Rejasari, air sumur SPPG Rejasari belum memenuhi syarat. Total bakteri koliform dan bakteri Escherichia coli atau E coli diatas 200 cfu/ml.

"Dari hasil diskusi hari ini, Kamis (2/20) dimungkinkan bakteri E coli muncul bisa dari kebocoran septik tank," jawabnya. (yda)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: