Banner v.2

Meski Bisa Memicu Longsor, Pengeprasan Tebing Terus Dilakukan

Meski Bisa Memicu Longsor, Pengeprasan Tebing Terus Dilakukan

BANYUMAS-Sejumlah warga terutama di wilayah Banyumas selatan masih banyak yang memanfaatkan lahan tebing untuk dijadikan tempat tinggal. Mereka meratakan tebing tersebut dengan cara dikepras agar dapat dibangun rumah tinggal. Mereka menganggap hal itu jauh lebih aman dibanding harus membangun rumah diatas tanah yang tidak rata. Padahal, tindakan pengeprasan tanah dinilai dapat memicu terjadinya longsor. "Daripada membuat rumah di atas tebing, mendingan tebingnya kita kepras kemudian baru dibuat rumah," kata Karnani (47) warga Banyumas. KEPRAS : Sejumlah warga sedang meratakan atau mengepras tebing yang akan dibangun rumah bagi mereka. (DARYANTORADARMAS) Menurut dia, saat ini banyak warga yang membuat rumah dengan mengepras tebing. Sebab ada dua keuntungan, pertama tanahnya bisa dijual untuk tanah urug. Sedangkan lahannya yang sudah rata lebih mudah untuk dibuat rumah. "Bahkan ada tetangga yang membuat rumah hanya modal jual tanah urug. Ya memang kalau dijual ke pengusaha uangnya lebih banyak karena menggunakan alat berat," bebernya. Senada diungkapkan Partini (39), agar dapat membangun rumah, warga di perbukitan melakukan pengeprasan karena dinilai lebih menguntungkan dari pada membangun diatasnya. Sebab sekarang ini lahan mudah sekali longsor. "Apalagi kalau musim hujan seperti ini. Sehingga mengepras bukit itu lebih aman dari pada membuat rumah diatasnya," kata dia. Sementara itu Kepala Desa Kebarongan, Agus Salim mengatakan, penggalian atau pengeprasan tanah itu sudah ada yang bertanggungjawab. Oleh karena itu, pihaknya hanya meminta pengeprasan memperhitungkan dampaknya. "Yang bisa kita lakukan memang seperti itu. Sebab itu wilayahnya dinas terkait," kata dia. Diberitakan sebelumnya, perbukitan di wilayah Banyumas banyak yang telah dikepras. Hal itu memicu bencana longsor, karena banyak meninggalkan bekas galian tanah. Terutama di wilayah Banyumas selatan. "Paling bahaya setelah musim kemaru kemudian hujan. Bekas galian yang ditinggalkan kerap menimbulkan retakan," kata Sumadi (52) warga Pageralang. Menurutnya, retakan itulah yang kemudian diguyur hujan deras sehingga membuat tanah meluncur ke bawah. Kalau luncurannya tinggi maka akan sangat berbahaya bagi rumah-rumah yang ada di bawahnya. "Karena itu warga yang ada di daerah perbukitan untuk selalu waspada. Setidaknya kalau hujan deras upayakan bangun dan melihat kondisi," terangnya. (yan/why)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: