Dan Perjalanan Panjang Inklusi Selama 12 Tahun Itu Bermuara Pada Kesejahteraan
Rifqi saat menjadi menjadi host di acara Basic Class 2024.-Deni Arifianto/Radar Banyumas-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Malam bada Isya itu Jalan Brigjend Pol Soemarto Purwokerto terasa agak lengang. Jalan yang biasanya ramai itu agak sepi karena sepertinya hujan akan segera turun.
Persis di depan SPN (Sekolah Polisi Negara), setang motor berbelok ke Jalan Watumas 2 yang relatif lebih sempit dan sulit untuk berpapasan dua mobil. Dan ternyata masih harus lanjut lagi masuk ke gang kecil di wilayah RT 4 RW 4 Kelurahan Purwanegara.
Di rumah milik Kuswanto itulah Rifqi Dwi Nugroho tinggal atau lebih tepatnya kos sejak Agustus 2025, setelah mondok usai. Rifqi sempat mondok dan menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mutadien Sokanegara yang didirikan oleh Abah H Andus selama dua tahun. Dan perbincanganpun mengalir hingga larut malam.
Rifqi adalah mahasiswa asal Tangerang dan telah menempuh 2/3 dari masa kuliahnya alias semester 5 di jurusan Ekonomi Syariah FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) UIN Saizu Purwokerto.
Sejak awal kuliah, bungsu dari dua bersaudara ini sudah tertarik pada dunia pasar modal. Ketertarikannya terhadap bursa efek itu membawanya aktif di KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) dan menjabat sebagai direktur media KSPM Febi Uin Saizu.
Berawal dari modal Rp. 100 ribu, mahasiswa yang juga memiliki kesibukan di Dema (Dewan Mahasiswa) kampus ini meresapi betul filosofi ‘learning by doing’.
Dari modal tak seberapa itu dia terus belajar dan praktek hingga menghimpun dana jutaan rupiah dan terus diinvestasikan kembali di saham. Ternyata bukan saham saja, mahasiswa yang mengaku memiliki ‘jatah bulanan’ pas pasan ini awalnya berinvest di reksadana.
“Awalnya di reksadana tapi ternyata pergerakannya lambat, jadi sekarang gercep di saham” ujar Rifqi.
Aksi capital gain (keuntungan yang diperoleh dari penjualan aset seperti saham, properti, atau obligasi dengan harga yang lebih tinggi daripada harga belinya) sering dilakukan Rifqi. Itulah yang membuat rupiahnya terus berkembang.
“Kalau sekedar mengandalkan deviden biasanya hasilnya tidak seberapa dan dibagikan hanya satu tahun sekali bahkan kadang tidak dibagi” ungkapnya. Deviden sendiri merupakan bagian dari keuntungan atau laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang sahamnya.
Capital gain membutuhkan ilmu tersendiri karena harus jeli melihat peluang prospek saham sebuah perusahaan.
“Risiko pasar pada investasi saham merujuk pada fluktuasi harga saham yang disebabkan oleh perubahan kondisi pasar secara keseluruhan. Risiko ini tidak dapat dihindari dan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, suku bunga, sentimen investor, dan peristiwa politik” lanjut Rifqi.
Risiko tinggi ini tidak menyurutkan langkah Rifqi untuk mengikuti jejak Lo Kheng Hong. Maestro saham ini merupakan investor individu yang sukses di pasar saham Indonesia dan sering dijuluki sebagai ‘Warren Buffett nya Indonesia’.
Setelah mengikuti Seminar Nasional Investasi 2025 yang diadakan oleh BEI kantor perwakilan Yogyakarta bulan September lalu Rifqi semakin semangat berinvestasi di saham.
“Karena saya jadi makin tahu ilmunya dan semakin bisa ‘membaca’ kapan saatnya beli dan kapan saatnya jual” ujar Rifqi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

