Tangis Tukang Sol di Puing Kericuhan Demo, Alat Kerja dan Sepatu Pelanggan Dijarah Massa
Kondisi Idris tukang sol yang barang-barangnya dijarah dan dirusak pada saat demo, Minggu (31/8)-FERDHI BRIANTAMA/RADARMAS-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Sehari setelah aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di kompleks Pendopo Sipanji Banyumas, suasana duka dan kerugian menyelimuti para pedagang kecil yang biasa mencari nafkah di kawasan tersebut.
Salah satu yang paling terdampak adalah Idris (63), seorang tukang sol sepatu yang telah puluhan tahun bekerja di bawah pohon beringin Alun-alun Purwokerto.
Kericuhan pada Sabtu (30/8) sore itu tak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga melenyapkan seluruh harta benda yang menjadi tumpuan hidupnya. Wajahnya tampak lesu saat menceritakan kembali peristiwa yang membuatnya kehilangan segalanya dalam sekejap.
“Semua barang saya, alat-alat sol, dan sepatu milik pelanggan dijarah dan dirusak oleh massa demo kemarin,” tutur Idris dengan suara bergetar, Minggu (31/8).
BACA JUGA:Bangunan Pemkab Dirusak, Motor Polisi Dirusak, Kasatpol: Demo Disusupi
Pria yang telah menekuni profesinya selama 39 tahun ini menjelaskan bahwa ia dan tiga rekan sesama tukang sol lainnya biasa menitipkan barang-barang mereka di area kantor Pemkab karena merasa aman. Ia sama sekali tidak menyangka akan ada aksi besar yang berujung anarkis.
Yang paling membuat hatinya pilu adalah hilangnya sepatu milik pelanggan yang dipercayakan kepadanya untuk diperbaiki. Rasa tanggung jawab kini bercampur dengan kebingungan tentang apa yang harus ia katakan kepada para pemilik sepatu tersebut.
“Saya bingung sekali kalau nanti ada pelanggan yang datang menanyakan sepatunya. Total ada tiga pasang sepatu pelanggan yang hilang, saya tidak tahu harus bagaimana menggantinya,” keluhnya.
Berdasarkan informasi yang ia dengar, rata-rata massa yang melakukan perusakan adalah anak-anak muda. “Saya dapat kabar, yang ricuh itu kebanyakan anak-anak, entah masih SMP atau SMA. Sedih sekali melihatnya,” ujar Idris.
BACA JUGA:Demo di Pemkab Banyumas Berakhir Ricuh, Polisi Dilempari, Kantor Dirusak, Polisi Balas Gas Air Mata
Kini, yang tersisa hanyalah harapan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Ia memohon agar para pengunjuk rasa di kemudian hari bisa lebih bijak dan tidak merugikan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Harapan saya, kalau ada demo lagi, tolong jangan merusak fasilitas dan menjarah barang-barang kami para pedagang. Kan kasihan orang-orang kecil seperti kami yang sedang mencari nafkah jadi terkena imbasnya,” pungkasnya lirih.
Kisah Idris menjadi cerminan dari dampak ikutan sebuah aksi massa, di mana perjuangan untuk menyuarakan aspirasi terkadang harus dibayar mahal oleh kerugian warga biasa yang paling rentan.(jeb)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

