Lagu Bengawan Solo di Wilayah DAOP 6 Dihentikan, DAOP 5 Purwokerto Tetap Putar Di Tepinya Sungai Serayu
Suasana Stasiun Purwokerto yang dihiasi ornamen merah putih menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.-HUMAS DAOP 5 PURWOKERTO-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Polemik penghentian pemutaran lagu Bengawan Solo di Stasiun Solo Balapan dan stasiun-stasiun di wilayah kerja Daop 6 akibat persoalan hak cipta dan royalti belakangan menjadi sorotan publik.
Kasus tersebut dinilai menyentuh aspek pelestarian budaya sekaligus kebijakan lembaga negara terhadap karya seni daerah.
Meski demikian, kondisi berbeda terlihat di wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto. Lagu daerah Di Tepinya Sungai Serayu hingga kini masih setia berkumandang di stasiun-stasiun besar, seperti Purwokerto, Kroya, Kutoarjo, Bumiayu, Slawi, Sidareja, Cilacap, dan Maos. Lagu tersebut diputar setiap kali kereta api datang maupun berangkat.
Manager Humas Daop 5 Purwokerto, Krisbiyantoro, menjelaskan tidak ada larangan ataupun kendala hukum terkait pemutaran lagu itu. Karena itu pihaknya memilih tetap mempertahankan sebagai bagian dari identitas daerah dan pelayanan kepada penumpang.
BACA JUGA:BPKN Minta Aturan Royalti Lagu LMKN Lebih Transparan dan Adil
“Masih memutar lagu Di Tepinya Sungai Serayu. Karena memang itu lagu daerah ikon Daop 5, dan sampai saat ini tidak ada yang melarang,” ujarnya, Kamis (28/8/2025).
Kris mengaku tidak mengetahui secara detail polemik royalti yang sempat ramai dibicarakan. Namun, menurutnya hingga saat ini belum ada pihak yang mempermasalahkan pemutaran lagu tersebut di lingkungan Daop 5 Purwokerto.
“Iya betul, selama ini tidak ada,” tegasnya singkat.
Ia menambahkan, tradisi memutar lagu Di Tepinya Sungai Serayu sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Meski tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kali diputar, Kris menyebut hal ini telah menjadi ciri khas tersendiri bagi stasiun di wilayah Daop 5.
BACA JUGA:Sistem Royalti Lagu, Musisi Pemula Wajib Tahu
“Persisnya saya tidak tahu. Tapi sejak saya dua kali bertugas di Daop 5 Purwokerto, sudah memutar lagu tersebut. Mungkin sudah ada lebih dari 10 tahun lalu,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu calon penumpang di Stasiun Purwokerto, April (39), mengatakan masih mendengar lagu tersebut saat tiba di stasiun. Ia berharap pemutaran lagu yang mencirikan khas suatu daerah di stasiun, tetap dipertahankan dan tidak terhambat oleh urusan administratif.
“Masih dengar lagu itu kok, Di Tepinya Serayu. Mungkin ajdi aneh kalau turun di Stasiun Purwkerto terus tidak ada lagu Ditepinya Sungai Serayu, karena sudah jadi ikon,” ujarnya. (dms)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

