Jumlah Kasus Naik, Tingkat Kematian Leptospirosis Turun
Warga Banyumas memasang perangkap di pekarangan guna menekan populasi tikus.-yu-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Dengan jumlah kasus penyakit Leptospirosis atau kencing tikus per Juli sebanyak 117 orang positif di Banyumas, Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematiannya justru menurun.
Pengelola Program Penyakit Menular Dinas Kesehatan Banyumas, Herni Pusparini mengatakan jumlah kasus Leptospirosis tahun ini per Juli di Banyumas lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Di tahun 2024 jumlah total kasus Leptospirosis ada 77 orang positif dengan enam kematian serta CFR 8,11 persen.
"Tahun ini per bulan kemarin untuk jumlah kasus sudah melebihi. Januari sampai Juli sudah ada 117 orang positif Leptospirosis dengan enam kematian juga," katanya.
Herni menjelaskan dengan peningkatan kasus Leptospirosis dan jumlah kematian yang sementara sama dengan tahun lalu maka CFR turun dikisaran lima persen. Disinggung mengenai turunnya Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Salatiga seperti tahun lalu terkait survei kasus Leptospirosis pada tikus yang menyebabkan kematian di Banyumas, untuk tahun ini belum.
BACA JUGA:Kasus Leptospirosis di Cilacap Capai 23, Lima Orang Meninggal Dunia
"Tahun lalu Tim BRIN Salatiga turun ke Desa Kalisalak Kebasen. Tahun ini belum ada informasi," terang dia.
Data yang dihinpun Radarmas, jumlah kematian akibat Leptospirosis per Juli 2025 juga masih lebih rendah dengan jumlah kematian tahun 2023 dengan 11 orang. Penjelasan tingginya kasus Leptospirosis tahun ini di sebagian desa Kecamatan Cilongok masuk wilayah kerja Puskesmas Cilongok I alasannya Kecamatan Cilongok sejak tahun 2019 sudah menjadi lokus untuk penelitian Leptospirosis.
"Jadi petugas kesehatannya sudah terbiasa dengan Leptospirosis. Mereka dengan mudah mengidentifikasi ketika ada warga yang sakit mengarah Leptospirosis," pungkas Herni. (yda)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

