Gagal Ginjal: Penyebab, Gejala, dan Deteksi Dini
Kegiatan sosialisasi mahasiswa Poltekkes Kemenkes Semarang tentang gagal ginjal.-Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Semarang untuk Radarmas-
Penulis:
Wahyudi, Ani Kuswati, Ruti Wiyati
Poltekkes Kemenkes Semarang
SETIAP tanggal 10 Maret maka kita memperingati Hari Ginjal Sedunia atau “The World Kidney Day” tahun ini diaplikasikan pengabdian Masyarakat dengan tema “Edukasi Pencegahan Gagal Ginjal: Dan Screening Gratis Di Banyumas” dan merupakan program Tridarma Perguruan Tinggi Poltekkes Kemenkes Semarang.
Gagal ginjal adalah kondisi ketika ginjal kehilangan kemampuan untuk menyaring limbah, racun, dan kelebihan cairan dari darah secara efektif. Akibatnya, zat-zat berbahaya menumpuk dalam tubuh dan menimbulkan gangguan kesehatan serius.
“Sepuluh persen orang yang mengalami gangguan ginjal itu adalah gangguan ginjal yang kronis atau yang sudah lama. 9 dari 10 orang tidak paham dan tidak mengetahui kalau ia mengalami gangguan ginjal. Penggolongan gangguan ginjal terbagi menjadi dua, yaitu gangguan ginjal akut dan kronis.
“Gangguan ginjal akut biasanya disebabkan oleh hal lain seperti asupan minum yang kurang, perdarahan hebat, serangan jantung, muntah yang hebat, diare yang banyak sehingga menyebabkan kurangnya cairan pada tubuh. Selain itu, konsumsi obat-obatan nefrotoksik. Sedangkan gangguan ginjal kronis disebabkan oleh penyakit jangka panjang, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, penyakit jantung, infeksi yang tidak diobati dengan efektif yang secara perlahan merusak ginjal dan mengurangi fungsi organ tersebut."
Beberapa tanda yang mengindikasikan gagal ginjal diantaranya pada gagal Ginjal Akut; Penurunan jumlah urine tiba-tiba, pembengkakan tungkai, pergelangan kaki, atau wajah, mual dan muntah, kelelahan ekstrem, sesak napas, kebingungan.
Sedangkan pada gagal Ginjal Kronis; sering buang air kecil, terutama malam hari, edema, penurunan nafsu makan, rasa logam di mulut, kulit gatal, kram otot, anemia (lemas, pucat), tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan
Ada sejumlah tes yang dapat dilaksanakan untuk menemukan gangguan ginjal lebih awal, seperti peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, adanya pembengkakan di beberapa bagian tubuh, kulit wajah yang tampak pucat atau anemia, serta penurunan frekuensi buang air kecil..
“Kita juga bisa melakukan pemeriksaan laboratorium seperti ureum, kreatinin, dan urine untuk mengetahui fungsi ginjal. Kadar kreatinin yang tinggi dalam darah dapat menjadi tanda adanya gangguan pada ginjal. Ada juga pemeriksaan elektrolit."
Deteksi Dini Gagal Ginjal
Pemeriksaan yang dapat dilakukan diantaranya; pemeriksaan ureum,kreatinin: bila peningkatan kadar menunjukkan fungsi ginjal menurun, Laju filtrasi glomerlus (GFR): Untuk menilai seberapa baik ginjal menyaring darah.
Pemeriksaan Urine yaitu; urinalisis: mendeteksi adanya protein, darah, atau zat abnormal lain dalam urine, Rasio albumin/kreatinin urine: untuk mendeteksi kebocoran protein (proteinuria).
Dan pemeriksaan penunjang; ultrasonografi (USG) ginjal: Melihat bentuk dan ukuran ginjal serta mendeteksi adanya batu, kista, atau obstruksi, CT Scan/MRI: Bila diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut.
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, khususnya di Masyarakat Banyumas. Selain hal tersebut Masyarakat hendaknya dapat melakukan pencegahan dan pola hidup sehat diantaranya; kontrol gula darah dan tekanan darah secara rutin, minum cukup air, hindari penggunaan obat tanpa resep dalam jangka Panjang, pola makan rendah garam dan protein berlebihan, berolahraga dan hindari merokok, dan pemeriksaan ginjal secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko seperti diabetes atau hipertensi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

